Demam berdarah di Indonesia pada 2020 lebih lama dibandingkan 2019

Demam berdarah di Indonesia pada 2020 lebih lama dibandingkan 2019

Petugas melakukan pengasapan (fogging) di kawasan Pondok Jaya, Cipayung, Depok, Jabar, Minggu (5/4/2020). Kegiatan tersebut guna memberantas nyamuk Aedes aegypti sekaligus mencegah wabah DBD. ANTARA FOTO/Andika Wahyu/foc.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan bahwa kasus demam berdarah yang terjadi di Indonesia pada 2020 tercatat lebih lama dibandingkan dengan 2019.

"Saat ini kasusnya masih naik. Kalau dibandingkan 2019, pada April kasus DBD sudah turun dari puncaknya. Tetapi, pada 2020 ini sepertinya memanjang," kata Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi melalui sambungan telepon di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan kasus penularan demam berdarah masih terjadi dan terus meningkat sampai hari ini, berbeda dengan tahun lalu yang sudah memasuki tahap penurunan pada April.

Baca juga: Kemenkes catat 100 kematian akibat DBD sampai awal Maret 2020

Baca juga: Kemenkes catat 94 orang meninggal akibat DBD hingga Maret 2020


Kasus demam berdarah di Indonesia, menurut data Kemkes pada 7 April mencapai 41.091 kasus dengan 260 diantaranya meninggal dunia.

Jawa Barat menjadi provinsi yang mencatatkan angka kasus paling banyak, yakni 6.337, sementara Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatatkan kasus kematian terbesar, yakni 48 jiwa.

"Kalau kita lihat data Jabar, terutama Kota Bandung, itu paling tinggi," katanya.

Penyebab tingginya kasus di daerah tersebut, kata dia, karena kota itu menjadi daerah urban yang lingkungannya juga banyak menjadi tempat perindukan nyamuk.

"Kalau DBD kan kuncinya sama ya, vektornya sama, yaitu lingkungan. Nah, kalau populasi nyamuknya banyak berarti tempat perindukan nyamuknya juga banyak," katanya.

Baca juga: Jubir pemerintah ingatkan warga waspada DBD selama pandemi COVID-19

Baca juga: Jakarta ditargetkan bebas DBD pada 2020

Baca juga: Kasus DBD di beberapa daerah Indonesia meningkat, kata Kemenkes


Ia mengatakan ada banyak faktor yang menyebabkan nyamuk aedes aegypti, penyebab demam berdarah (DBD), berkembang biak di suatu lingkungan, di antaranya karena kepadatan rumah penduduk dan masih banyaknya tempat yang tidak dikendalikan dengan baik, sehingga banyak nyamuk bersarang.

Untuk itu, perlu adanya upaya pemberantasan sarang nyamuk lebih dini sebelum masa penularan. "Jadi pada September, Oktober dan November seharusnya sudah mulai melakukan kerja bakti bersama," katanya.

Kemkes, pada bulan-bulan tersebut sudah kerap mengingatkan masyarakat untuk melakukan pembersihan sarang nyamuk (PSN), sehingga kasus di satu daerah dapat terkendali.
Pewarta : Katriana
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020