Sebanyak 2.000 personel TNI ikuti pelatihan tenaga "tracer"

Sebanyak 2.000 personel TNI ikuti pelatihan tenaga

Kepala Pusat Kesehatan (Kapuskes) TNI Mayjen TNI Tugas Ratmono. (ANTARA/istimewa)

Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 2.000 personel TNI dari wilayah Sumatera dan Kalimantan mengikuti pelatihan tenaga tracer (pelacak) untuk percepatan penanganan COVID-19 di tanah air.

"Pelatihan tenaga tracer COVID-19 merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden Joko Widodo untuk mempercepat pengendalian pandemi COVID-19 melalui penguatan testing, tracing dan treatment," kata Kepala Pusat Kesehatan (Kapuskes) TNI Mayjen TNI Tugas Ratmono melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu.

Ribuan personel TNI yang mengikuti pelatihan secara virtual tersebut yakni Bintara Pembina Desa (Babinsa) TNI AD, Bintara Pembina Potensi Maritim (Babinpotmar) TNI AL dan Bintara Pembina Potensi Dirgantara (Babinpotdirga) TNI AU.

Baca juga: Panglima TNI salurkan bantuan laptop untuk tenaga "tracer" COVID-19

Pelatihan tenaga tracer merupakan hasil kerja sama antara TNI dengan Kementerian Kesehatan, Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Menurut Kapuskes TNI, salah satu strategi mempercepat penanggulangan COVID-19 di Indonesia adalah penguatan testing, tracing dan treatment serta jangkauan vaksinasi. Sehingga, lebih cepat menemukan kasus dan melakukan penatalaksanaan dengan tepat.

"Pelacakan kontak adalah proses untuk mengidentifikasi, menilai dan mengelola orang-orang yang kontak erat dengan kasus konfirmasi untuk mencegah penularan selanjutnya," ujar dia.

Baca juga: 63.000 prajurit TNI dikerahkan jadi "tracer" kontak erat COVID-19

Pelacakan kontak erat penting dilakukan karena kasus konfirmasi bisa menularkan penyakit sejak dua hari sebelum hingga 14 hari sesudah timbulnya gejala.

Elemen utama implementasi pelacakan kontak adalah pelibatan dan dukungan masyarakat, perencanaan yang matang dengan mempertimbangkan situasi wilayah, masyarakat dan budaya, dukungan logistik, pelatihan, supervisi serta sistem manajemen data pelacakan kontak.

"Pelibatan masyarakat sangat penting untuk memastikan tidak adanya stigma yang muncul pada orang-orang yang masuk kategori kontak erat," kata dia.

Baca juga: Pengamat: Pengerahan 63 ribu prajurit "tracer" tunjukkan keseriusan
Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2021