Satgas: Varian COVID-19 baru akan terus ada selama terjadi penularan

Satgas: Varian COVID-19 baru akan terus ada selama terjadi penularan

Tangkapan layar - Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menyampaikan paparannya dalam konferensi pers yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis (9/12/2021). ANTARA/ Zubi Mahrofi.

Jakarta (ANTARA) -
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 mengingatkan kemunculan varian COVID-19 baru masih akan terus ada selama penularan masih terjadi.
 
"Saat ini, dunia termasuk Indonesia sedang menghadapi kemunculan varian Omicron sejak ditetapkan oleh WHO sebagai varian yang menjadi perhatian atau variant of concern (VOC)," ujar Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito dalam konferensi pers yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis.
 
Ia mengatakan, penyebaran varian Omicron sudah meluas, tidak hanya di negara-negara benua Afrika, namun juga lintas benua dengan total 57 negara.
 
"Sebelum Omicron telah ditemukan berbagai varian COVID-19 seperti Alpha, Beta, Gamma, MU serta varian Delta yang saat ini menjadi varian paling dominan setelah sempat menyebabkan lonjakan kasus di beberapa negara," katanya.

Baca juga: Waspadai mobilitas saat libur panjang meski PPKM diterapkan tak merata
 
Ia mengatakan, terdapat poin-poin penting pembelajaran dari berbagai varian itu yang perlu untuk terus diingat dalam menghadapi dinamika COVID-19 saat ini dan di masa yang akan datang.
 
Pertama, pembelajaran adanya rentang waktu dalam mengidentifikasi karakteristik varian baru, identifikasi perubahan genetik atau mutasi pada virus merupakan hal yang mudah dan cepat untuk dilakukan di laboratorium.
"Meskipun demikian, dengan teknologi saat ini masih dibutuhkan waktu untuk memastikan apakah perubahan genetik yang terjadi betul-betul akan mengubah karakteristik virus, baik dengan memperbanyak studi dan memperluas subjek penelitian," katanya.
 
Ia menyampaikan, dunia termasuk organisasi kesehatan dunia atau WHO juga terus belajar dari dinamika varian COVID-19 ini.

Baca juga: WHO sebut varian Omicron dapat mengubah arah pandemi COVID-19
 
Ia menambahkan, pembelajaran pertama itu mendasari pembelajaran kedua, yakni pentingnya langkah antisipatif dan preventif dalam penanganan varian baru.
 
"Setidaknya terdapat tiga strategi preventif yang krusial dalam mencegah importasi kasus yaitu kebijakan pada pintu masuk perjalanan internasional, kebijakan pengendalian mobilitas, dan kebijakan protokol kesehatan," paparnya.
 
Dan pembelajaran terakhir, lanjut dia, pendekatan global dalam menangani pandemi COVID-19
 
"Meskipun pandemi terjadi di seluruh dunia, nyatanya hingga saat ini belum semua negara memiliki akses yang sama terhadap vaksin, obat, dan alat kesehatan, sebagai contoh adalah kesetaraan akses vaksin," katanya.
Ia menambahkan, berbagai literatur termasuk publikasi Nielsen dan kawan-kawan pada matriks di awal Juli 2021 menyatakan bahwa terdapat variasi varian COVID-19 yang lebih banyak pada kelompok-kelompok yang belum divaksin.
 
"Sehingga disimpulkan vaksin dapat mencegah terbentuknya varian baru," katanya.
 
Dalam kesempatan itu, Wiku juga mengatakan bahwa saat ini Indonesia sedang berada dalam kondisi kasus yang terkendali.
 
Namun, ia mengingatkan, kondisi yang terkendali dapat menjadi bumerang apabila lengah dan abai terhadap pembelajaran dari dinamika COVID-19 yang telah dicermati bersama, mengingatkan upaya kuratif sangat mahal dan beresiko menimbulkan fatalitas.
 
"Munculnya Omicron sebaiknya menjadi pengingat bahwa pandemi merupakan tantangan global yang tidak akan selesai apabila hanya beberapa negara saja yang berhasil mengendalikan kasus," tuturnya.
 
 
 
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021