Masa kecilnya tergolong sulit dan hidup dengan orang tua yang serba terbatas, namun sosok Letjen TNI (Purn) Nono Sampono terbilang ulet dan sukses sehingga kisah hidupnya wajar dijadikan inspirasi bagi anak-anak milenial jaman sekarang.

Pria kelahiran Bangkalan (Madura) tanggal 1 Maret 1953 ini menghabiskan masa kanak-kanaknya hingga remaja di Ambon, Ibu Kota Provinsi Maluku dan sempat mengenyam bangku kuliah selama dua semester di Fakultas Teknik Universitas Pattimura Ambon.

"Saya dari Rokodok (sekarang Taman Kanak-Kanak) sampai SMA di sekolah Katolik dan lanjut kuliah di Tekhnik Perkapalan selama dua semester, tetapi berhenti akibat orang tua tidak mampu dan teken soldadu (TNI AL) saja dan alhamdullilah puji Tuhan jadi Jenderal," kata Nono Sampono saat berdialog dengan kepala sekolah dan para guru SMP Negeri 2 Ambon.

Menurut dia, ibunya di rumah saja dan tidak bisa baca tetapi kalau soal uang tahu, kemudian ayah hanya seorang sopir dan sekolahnya hanya sampai kelas empat sekolah dasar.

Waktu kecil orang lain masih bisa bermain tetapi Nono Sampono sudah berpikir mencari tambahan penghasilan dengan menjual ikan di pasar dan juga menjual roti bubengka.

Terkadang jadi kondektur angkutan kota pada hari libur seperti Minggu untuk menopang pendapatan ayah.

Meski pun disibukkan dengan urusan mencari uang sebagai penjual ikan atau jadi kondektur (kernet) mobil angkot, tetapi Nono kecil tidak lupa beribadah sesuai agama dan kepercayaan yang dianutnya.

Tinggal di kawasan Tanah Tinggi, Nono harus berjalan sekitar dua hingga tiga kilometer ke daerah Silale (Pantai Waehaong) untuk belajar mengaji di sana bersama rekan-rekannya.

"Memang Tuhan menghendaki beta jadi jenderal dan hanya tiga orang asal Maluku yang berpangkat letjen di antaranya Letjen TNI (Purn) Leo Lopulisa, Letjen TNI (Purn) Suwaedy Marasabessy, serta saya Letjen TNI (Marinir) Nono Sampono," ujarnya.

Artinya, bukan sesuatu hal yang mudah memang, dimana banyak doktor tetapi tidak jenderal dan sebaliknya banyak jenderal tidak meraih gelar doktor, namun Nono Sampono justeru mendapatkan semuanya.

"Bukan menyombongkan diri tetapi Tuhan itu adil, sebab dia menghendaki siapa saja bisa jadi seperti ini, mau orang miskin atau dari mana pun juga bisa," tutur Nono Sampono yang saat ini menjabat Wakil Ketua DPD RI asal daerah pemilihan Provinsi Maluku.

Karier cemerlangnya di TNI Angkatan Laut mengantarkan Nono Sampono diangkat sebagai Wakil Komandan Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) dengan pangkat Brigadir Jenderal TNI (Marinir) pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.

Karier ini terus meningkat di era Presiden Megawati Soekarnoputri yang menujuknya sebagai Komandan Paspampres dengan pangkat Mayor Jenderal TNI (Mar) dan mencatatkan diri sebagai putra Maluku pertama yang menjadi Komandan Paspampres.

Selain itu, putera Bangkalan-Madura berdarah Maluku yang merupakan perwira tinggi TNI AL ini dipercaya menjadi Gubernur Akademi Angkatan Laut. Itu berarti dia meretas sejarah baru lagi karena belum pernah ada putra Maluku yang menduduki jabatan tersebut. Jabatan tersebut dia emban selama tiga tahun yakni 2003 ? 2006.

Nono juga sempat dipercayakan untuk memimpin pasukan elit komando TNI AL tahun 2006 silam dan menjabat sebagai Komandan Korps Marinir dan selanjutnya diangkat menjadi Komandan Jenderal Akademi TNI yang membawahi seluruh lembaga pendidikan di lingkungan TNI, termasuk Akmil, AAL, dan AAU, dan terakhir menjadi Kepala Badan SAR Nasional dan naik pangkat menjadi Letnan Jenderal TNI (Mar).

Menurut dia, kalau memang ada upaya atau usaha tentu akan berhasil dan sikapo positif itulah yang selalu dipegangu teguh oleh Nono Sampono.



Disvaritas Tidak Jauh



Kecerdasan seorang Nono Sampono dalam mata pelajaran matematika memang tergolong baik dan tidak kalah dengan orang lain di Pulau Jawa, malahan bisa jadi juara artinya disvaritas saat itu tidak jauh.

"Saya juga terjun di dunia pendidikan dengan bikin sekolah dari TK sampai SMP dan SMA/SMK," kata ayah dua puteri dan seorang putera ini.

Di sekolah bukan sekedar mengajar ilmu tetapi juga moral anak-anak dibina, dan jaman sekarang ada beberapa poin.

Yang pertama adalah anak-anak harus sehat terlebih dahulu baru bisa mengajarkan mereka sampai pintar dan cerdas, kemudian anak harus memiliki karakter dalam hal ini adalah karakter moral dan spiritual karena agama itu sangat penting, dan yang terakhir adalah kinerja yang terkadang dilupakan orang lain.

Etos kerja ini bukan ilmu tetapi harus diterapkan, jadi setelah kejujuran baru etos kerja diajarkan oleh seorang guru.

Selanjutnya adalah kompetensi ilmu dan perlu ada berkolaborasi atau kerjasama, sebab tidak ada orang yang bisa berjuang sendiri tanpa berjuang bersama orang lain.

Pewarta: Daniel Leonard

Editor : John Nikita S


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2019