Warga Muslim di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Pulau Ambon, pada Sabtu tetap menggelar takbiran dan pawai hadrat untuk memeriahkan perayaan Idul Adha 1441 Hijriah.

Dalam ritual penyembelihan hewan kurban itu, dengan iringan takbir, selawat, dan tabuhan rebana, para lelaki yang ikut dalam pawai hadrat melambaikan sapu tangan beraneka warga kepada warga yang berkumpul di tepi jalan untuk menyaksikan pawai.

Ritual kurban di Desa Kaitetu, yang berada sekitar 32,5 kilometer dari Kota Ambon, dimulai pukul 09.00 WIT dengan penjemputan kambing kurban dari rumah raja setempat oleh rombongan pawai hadrat untuk diarak keliling kampung sebelum dibawa ke masjid.

Sebelum diarak, kambing itu dibedaki. Tanduk dan lehernya dikalungi rangkaian bunga plumeria atau kamboja. Tubuhnya dibalut kain putih.

Para penghulu Masjid Hena Lua dan Saniri (pemangku adat) kemudian melantunkan doa.

Setelah itu, Raja Desa Kaitetu M. Armin Lumaela menggendong kambing dan berjalan bersama peserta pawai menuju rumah Soa--kelompok marga dalam strata masyarakat adat Maluku-- Nukuhaly untuk menjemput satu kambing kurban lainnya.

Kambing yang dijemput di rumah Soa Nukuhaly, yang dalam silsilah pemerintahan adat Negeri Kaitetu merupakan mata rumah keturunan penasihat raja, juga didandani dan didoakan oleh para penghulu masjid kuno Wapauwe.

Rintik hujan tidak mengurangi suka cita warga Desa Kaitetu menjalankan tradisi kurban. Warga yang menyaksikan prosesi kurban ikut menyahut takbir yang dikumandangkan oleh para pemuka agama selama pawai.

Usai pawai keliling kampung, rombongan pawai mengantar kambing dari rumah raja ke Masjid Hena Lua dan kambing dari rumah Soa Nukuhaly ke Masjid Wapauwe untuk ritual lari mengelilingi masjid sebelum disembelih.

Total ada empat sapi, satu di antaranya dari Gubernur Maluku Murad Ismail, dan 11 kambing yang dikurbankan di Desa Kaitetu pada Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriah.

Lima kambing disembelih di Masjid Hena Lua, enam kambing disembelih di Masjid Wapauwe, dan sapi-sapi kurban disembelih di halaman rumah raja setempat.

Sekretaris Desa Kaitetu Usman Nadir Elly mengatakan bahwa aparat pemerintah desa bersama pemuka agama dan warga mempertimbangkan penyelenggaraan pawai tarian hadrat tersebut secara matang.

Menurut dia, pawai tetap dilaksanakan karena desa berada di zona hijau penularan COVID-19. 

"Ini sudah tradisi sejak masa nenek moyang kami, dan sudah dipertimbangkan untuk tetap dilaksanakan. Wilayah kami juga jauh dari Kota Ambon yang memang masih kategori zona merah COVID-19," kata Nadir.

Dia menjelaskan, pawai tarian hadrat merupakan bentuk ungkapan syukur dan suka cita warga Kaitetu karena masih bisa berkurban dan berbagi pada Hari Raya Idul Adha. 

"Bukan melupakan kalau pandemi masih terjadi, tapi warga bersyukur dan suka cita bisa berkurban dan berbagi," katanya.
   

Pewarta: Shariva Alaidrus

Editor : John Nikita S


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2020