Ambon (ANTARA) - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Ambon menjadikan pertanian modern hidroponik sebagai sarana untuk memperkuat pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) sekaligus bagian dari program ketahanan pangan nasional.

“Budidaya ini dilakukan tanpa menggunakan media tanah, melainkan hanya air dan nutrisi khusus, sehingga cocok diterapkan di lingkungan lapas yang memiliki keterbatasan lahan,” kata Kepala Lapas Ambon, Herliadi, di Ambon, Minggu.

Dia menjelaskan, metode tersebut sangat efisien dan memiliki siklus panen singkat yakni rata-rata dapat dipanen dalam 10–15 hari setelah semai dengan hasil yang stabil dan berkelanjutan.

Herliadi menambahkan, tujuan utama program ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga membekali warga binaan dengan keterampilan bertani modern yang dapat menjadi peluang usaha setelah bebas.

“Lapas bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga wadah pembinaan. Kami ingin mereka pulang dengan keterampilan yang bermanfaat,” ujarnya.

Salah satu contohnya, hasil panen selada hidroponik pada hari itu mencapai 10 kilogram dan dijual kepada petugas lapas serta keluarga WBP. Hasil penjualan mampu menggerakkan ekonomi internal lapas sekaligus menunjukkan transparansi pembinaan kepada masyarakat.

Program hidroponik ini juga mendukung kebijakan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto yang menitikberatkan pada pemberdayaan warga binaan untuk mendukung ketahanan pangan.

“Langkah ini sejalan dengan program Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden untuk mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan,” tuturnya.

Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Maluku Ricky Dwi Biantoro mengatakan, pengembangan teknologi pertanian hidroponik ini menjadi bagian dari implementasi Program Akselerasi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam ketahanan pangan, yang mendorong setiap lapas memanfaatkan potensi lokal.

“Harapan kami, saat bebas nanti warga binaan tidak hanya memiliki keahlian tetapi juga peluang usaha. Semua ini bagian dari komitmen kami mewujudkan pemasyarakatan yang produktif dan berdaya saing,” kata Ricky.



Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor : Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2026