Ambon (ANTARA) - Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa memaparkan capaian pertumbuhan ekonomi Maluku yang mencapai 5,54 persen dalam setahun kepemimpinan sebagai indikator penguatan fondasi ekonomi daerah di tengah dinamika nasional dan global.
“Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Maluku kini tercatat sebesar 5,54 persen secara tahunan, melampaui rata-rata nasional sebesar 5,39 persen. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh sektor perikanan, pertanian, perdagangan, serta belanja pemerintah dan investasi infrastruktur,” kata dia dalam syukuran setahun kepemimpinan di Ambon.
Dirinya menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil konsolidasi kebijakan fiskal daerah, penguatan sektor unggulan berbasis sumber daya kelautan, serta percepatan sejumlah proyek strategis yang memiliki dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.
“Pertumbuhan 5,54 persen ini bukan sekadar angka, tetapi refleksi dari kerja kolektif membangun sektor riil dan memperluas kesempatan kerja,” ujarnya.
Selain pertumbuhan ekonomi, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Maluku tahun 2025 juga meningkat menjadi 74,09 poin dari 73,40 poin pada 2024 dan kini masuk kategori tinggi.
Inflasi daerah tetap terjaga dalam rentang target nasional 2,5 persen ±1 persen melalui penguatan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Di sektor kelautan dan perikanan, pemerintah provinsi mempercepat pembangunan kawasan berbasis ekonomi biru, termasuk pengembangan kampung nelayan produktif dan hilirisasi hasil perikanan.
Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah, memperluas akses pasar, serta meningkatkan pendapatan nelayan.
Pengembangan proyek strategis seperti Blok Masela juga dinilai akan memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian daerah, mulai dari penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), hingga peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
Selain itu, rencana pengembangan Maluku Integrated Port diharapkan memperkuat konektivitas logistik dan menekan biaya distribusi antar-wilayah kepulauan, sehingga daya saing komoditas Maluku semakin meningkat.
Pemerintah provinsi juga mendorong hilirisasi komoditas perkebunan dan perikanan agar ekspor tidak lagi didominasi bahan mentah, melainkan produk olahan bernilai tambah tinggi.
Menurut Gubernur, stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok menjadi bagian penting dalam menjaga daya beli masyarakat. Oleh karena itu, pengendalian inflasi terus diperkuat melalui sinergi lintas kabupaten/kota dan optimalisasi distribusi pangan.
Ia menegaskan bahwa fokus pembangunan ke depan tetap diarahkan pada penguatan ekonomi berbasis potensi lokal, peningkatan investasi, dan pemerataan pertumbuhan antar-wilayah.
“Transformasi ekonomi Maluku harus berbasis keunggulan kelautan dan kepulauan, agar pertumbuhan yang kita capai benar-benar inklusif dan berkelanjutan,” tegasnya.
Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul AzisUploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026