Sejumlah ahli dan peneliti di bidang kebencanaan memaparkan hasil riset mereka terkait bencana dan sejarahnya di Indonesia dalam seminar internasional literasi kebencanaan yang digelar oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Ambon, Provinsi Maluku, Rabu, guna mencari solusi penanganan dan mitigasi terhadap dampak yang diakibatkan.

"Sebelum tsunami yang terjadi di Aceh pada 2004, peristiwa yang sama atau palaeotsunami juga terekam ada di sana," kata Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati dalam paparannya di seminar itu.

Bertemakan "Literasi Sejarah Kebencanaan Sebagai Warisan Ketangguhan Masa Lalu", kegiatan seminar internasional literasi kebencanaan di Indonesia berlangsung pada 13-14 Oktober untuk memeriahkan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2021.

Raditya mengatakan bencana adalah kejadian berulang, karena beberapa fakta sejarah menunjukkan adanya peristiwa bencana yang sama pernah terjadi sebelumnya di Indonesia, di antaranya adalah tsunami, gempa bumi, letusan gunung berapi dan bencana alam lainnya.

Ia mencontohkan riwayat letusan dahsyat Gunung Merapi. Gunung yang terletak di bagian tengah Pulau Jawa tersebut meletus hebat pada 26 Oktober-5 November 2021 menyebabkan sebanyak 61.154 orang mengungsi dan 341 orang meninggal dunia.

Peristiwa yang sama tercatat pernah terjadi pada 1822-1823. Luncuran awan panas yang dihasilkan ke arah Kali Apu, Blongkeng dan Woro mengubur delapan desa di sekitarnya.

Merapi yang menjadi salah satu gunung api paling aktif di dunia juga pernah meletus tiba-tiba pada 25 Desember 1832 tengah malam hingga pukul 18.35 WIB, kemudian meletus lagi selama 120 jam tanpa jeda pada 15-20 April 1872, dan meluncurkan awan panas hingga 20 kilometer ke arah barat pada 1930. Peristiwa tersebut mengubur 13 desa dan menewaskan 1.369 penduduk.

"Jika kita mempelajari sejarahnya, bencana adalah kejadian berulang. Bencana yang terjadi saat ini pernah terjadi sebelumnya di masa lalu," kata Raditya Jati.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Bayu Tanoyo dan Nurmita Arum Sari dari Arsip Nasional Republik Indonesia *ANRI) dalam paparan mereka mengenai peran arsip "Memorie van Overgave" terhadap kilas balik bencana banjir di Banyumas, Jawa Tengah.

"Sejarah mencatat Banyumas pernah mengalami banjir besar pada 21-23 Februari 1861. Arsip sebagai media kilas balik sejarah masa lalu guna pembelajaran di masa depan," kata Bayu Tanoyo.

Ia mengatakan wilayah Banyumas berada di delta Sungai Serayu yang diapit pegunungan mulai dari bagian utara dan selatan. Bentang wilayah demikian membuat wilayah Banyumas menjadi salah satu daerah tersubur di Pulau Jawa.

Dalam arsip Memorie van Overgave Inventaris Arsip Banyumas (K9) No. 3.5 Tahun 1861 dalam Laporan Politik (Verslag Politiek) kejadian banjir besar Serayu (overstroeming Serajoe) menyebutkan sungai Serayu yang mengaliri Keresidenan Banyumas dari arah timur laut ke barat daya membelah secara diagonal, mencapai ketinggian melebihi posisinya di arah utara akibat banjir bandang.

Catatan lain yang merekam peristiwa banjir Banyumas adalah prasasti di rumah Residen Banyumas yang bertuliskan "Overstrooming te Banjoemas, Den 21 tot 23 Februarij 1861" sebagai penanda ketinggian air saat banjir, lukisan Watersnod op Midden Java (banjir di Jawa Tengah) oleh Raden Saleh pada 1862 dan tulisan Babad Banjoemas oleh R Wirjaatmadja pada 1898.

"Arsip sebagai langkah awal penelitian mengenai sejarah kebencanaan menjadi salah satu solusi penanganan bencana," demikian Bayu Tanoyo.






 

Pewarta: Shariva Alaidrus

Editor : Lexy Sariwating


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2021