Raja Bali Majapahit Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna M. Wedasteraputra Suyasa III menghadiri pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan Raja Negeri Sirisori Islam, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah Johny Karim Pattisahusiwa, yang digelar di bailirung kerajaan dan rumah adat setempat, Sabtu. I Gusti Ngurah Arya Wedakarna hadir mengenakan baju kebesarannya, hitam-biru.  Kedatangannya bersama Saniri Latupati (Pemangku adat di Maluku) dan Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu disambut oleh paduan suara gabungan antara Sirisori Islam dan saudara pela-gandong (ikatan kekerabatan antar beberapa desa Islam dan Kristen) mereka, Negeri Haria, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku, yang menyanyikan lagu bertajuk Gandong. Rombongan kemudian dibawa dengan "perahu kaki" yang dibuat dari gaba-gaba (pelepah daun sagu) atau dalam bahasa setempat dikenal dengan "poli-poli latwarua" . Tak seperti layaknya perahu biasa, raja Bali Majapahit, gubernur Maluku dan para latupati diharuskan berjalan dengan memegang perahu yang tidak ada alasnya itu, menuju Istana Sirisori Islam. Saat tiba di depan bailirung istana, mereka disambut oleh remaja puteri Sirisori Islam yang menarikan tari sawat. Para penari itu mengenakan kabaya dansa (pakaian daerah Maluku). Tidak hanya menyaksikan pengukuhan Raja Johny Pattisahusiwa oleh Bupati Maluku Tengah Abdullah Tuasikal, Raja Bali Majapahit juga turut ambil bagian dalam prosesi pengambilan sumpah adat yang dilangsungkan di Toma Gola Pailemahu, rumah adat Negeri Sirisori Islam. I Gusti Ngurah Arya Wedakarna M. Wedasteraputra Suyasa III menyematkan medali emas di dada Johny Karim Pattisahusiwa dan istri, serta menyerahkan keris pusaka kerajaan Negeri Sirisori Islam. Ia juga memberikan cinderamata lonceng kecil yang terbuat dari tembaga kepada Gubernur Maluku.  Sebelum menyerahkannya, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna M. Wedasteraputra Suyasa III terlihat mendoakan lonceng tersebut secara agama Hindu.

Pewarta:

Editor :


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2011