Bank Indonesia (BI) Cabang Ternate, melaporkan peredaran uang di Maluku Utara (Malut) pada 2010 meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2009.
Kepala BI Cabang Ternate, Marlison Hakim di Ternate, Kamis, mengatakan, peredaran uang di Malut pada 2010 ini mencapai Rp100 miliar per bulan, sedangkan tahun 2009 hanya mencapai Rp70 miliar per bulan.
Meningkatnya peredaran uang di Malut tersebut diantaranya karena banyaknya bangunan usaha jasa, seperti pusat perbelanjaan dan hotel berbintang.
Di Kota Ternate misalnya, menurut Marlison, pada 2010 ini telah beroperasi sejumlah pusat perbelanjaan modern, seperti Jatiland Mall dan Hotel Amara (hotel bintang empat) yang secara langsung memberi kontribusi besar pada peningkatan peredaran uang di daerah ini.
Namun, meningkatnya peredaran uang tersebut belum disertai dengan peningkatan aktivitas usaha masyarakat, karena masyarakat Malut sejauh ini masih membelanjakan uang untuk kepentingan konsumtif.
Ia mengatakan, Pemkab dan instansi terkait di Malut perlu mendorong aktivitas masyarakat setempat dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada.
Di Malut, banyak potensi sumber daya alam yang bisa dijadikan aktivitas usaha masyarakat, seperti pembuatan sirup pala dan ikan fufu, yang selama ini dikenal sebagai salah satu produk khas Malut.
"Pemkab di Malut perlu mempromosikan produk khas Malut tersebut ke luar daerah, karena kalau diminati di luar daerah pasti akan mendorong tumbuhnya usaha masyarakat yang menghasilkan produk khas tersebut," kata Marlison Hakim.
Perbankan di Malut akan mendorong pengembangan usaha masyarakat melalui penyaluran berbagai sistem Kredit Usaha Kecil (KUK) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.