Pada era 1800-an, peneliti asal Inggris, Walacea, pernah singgah dan menetap bersama anggota ekspedisi yang dipimpinnya di Pulau Kobror dan Pulau Wokam. Dua pulau ini merupakan daratan terbesar di antara ratusan pulau di bawah administrasi pemerintah kabupaten Kepulauan Aru.
Melewati Selat Manumbai selebar kali yang memisahkan dua pulau itulah PML (perahu layar ber-motor) Pinisi Cinta Laut membawa rombongan Ekspedisi Garis Depan Nusantara bertolak menuju Pulau Penambulai, dalam satu misi penancapan tugu prasasti NKRI, Februari lalu.
Penambulai adalah satu dari delapan pulau terluar Indonesia. Karena itu prasasti harus dihujamkan sebagai tanda milik Indonesia, meski jarak daratan itu terpisah jauh sekali dari Jakarta dan sebaliknya bertetangga dengan Australia Barat.
Sebelum tiba di sana, tim ekspedisi pimpinan Irwanto Iskandar sempat cuci mata atau menikmati keindahan Kobror dan Wokam. Sejauh mata memandang tampak hutan mangrove (bakau) berdiri kokoh di sepanjang pantai kedua pulau yang berhimpitan ini
Jauh di tengah pulau yang masih hijau, kicau burung nuri, kakatua raja warna hitam pekat, kakatua putih jambul kuning, hingga cendrawasih, terdengar cukup keras. Satwa langka yang dilindungi itu seolah ingin mengabarkan bahwa mereka masih ada.
Hutan Kobror dan Wokam pun terlihat masih perawan, tidak ditemukan bekas aksi pengrusakan. Tidak heran, buaya, babi hutan, rusa, tikus tanah, kasuari dan kangguru yang dinamakan warga Aru dengan sebutan pelanduk, mudah ditemukan.
Menurut Irwanto Iskandar, keanekaragaman satwa endemis itu yang membuat tim ekspedisi pimpinan Walacea pada 1800-an pernah menetap cukup lama di di Selat Manumbai untuk keperluan riset.
Dan, dari penelitian itu jenis hewan dan tumbuhan di Kawasan Timur Indonesia memiliki garis tersendiri yang disebut Walacea (Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Papua).
"Perahu kandas"
Berperahu di Selat Manumbai bukan perkara terlalu mudah, semua tergantung cuaca dan debit air
Paling tidak, PLM Pinisi Cinta Laut yang mengangkut 13 anggota tim ekspedisi sempat mengalami kandas di gundukan pasir di tengah selat, yang seakan muncul lantaran debit air turun.
Beruntung, saat itu cuaca pagi masih sangat ramah, tidak ada hujan lebat seperti pada hari-hari sebelumnya.
Anggota tim ekspedisi, baik dari Wanadri Bandung (kelompok perambah hutan dan pendaki gunung), kelompok budayawan Rumah Nusantara, dan sejumlah wartawan mengaku bersyukur karena selamat, meski mereka sempat berpikir perahu akan tenggelam.
"Untungnya bukan karang," kata Daniel Leonard, wartawan ANTARA yang ikut dalam ekspedisi tersebut.
Menurut dia, kapal berukuran 16 meter kali empat meter yang mereka tumpangi terhenti sekitar lima menit, sebelum akhirnya lolos dan kembali melaju ke arah Penambulai.
"Kalau hujan lebat seperti kemarin-kemarin, habislah kita," katanya dengan mimik wajah serius.
Daniel bisa jadi benar. Betapapun, musim ombak dan angin kencang bulan Februari termasuk yang paling ditakuti semua kapten kapal yang beroperasi di perairan Maluku.
Cuaca laut pun tidak menentu. Udara cerah bisa sekonyong-konyong berubah gelap diselimuti awan hitam disertai tiupan angin kencang yang bisa mencapai kecepatan 40-60 kilometer per jam, belum lagi ombak bergulung-gulung dengan ketinggian 2-5 meter.
Kapten Bachtiar, yang pernah bekerja sebagai ABK nelayan sebuah perusahaan ikan di Benjina, Dobo sekitar tahun 2000 dan cukup paham kondisi perairan Kepulauan Aru, menyatakan di laut Aru memang terdapat banyak daratan kecil berupa pulau pasir dan pulau karang.
"Masih beruntung kita kandas di daerah berpasir. Kalau di atas karang, ekspedisi ini akan terhambat cukup lama dan harus menunggu kapal lain yang mampu menarik keluar kapal kita," kata Jacky Natasiang, salah satu anggota tim ekspedisi yang berasal dari Petugas Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Cabang Dobo.
"Sekolah Tanpa Guru"
Satu malam sebelum berlabuh di Penambulai, Tim Ekspedisi GDN beristirahat di belakang desa Warabal, satu daratan kecil di dekat pulau utamanya. Seluruh awak tidur di atas kapal guna menghimpun tenaga baru, karena keesokan hari harus turun untuk menancapkan prasasti.
Penambulai yang hanya berpenghuni 80 keluarga memiliki panjang daratan 165 Km, terletak pada garis 6 derajat 38 menit 26 detik Lintang Selatan - 134 derajat 54 menit 53 detik Bujur Timur, dan merupakan habitat buaya muara.
Warga Penambulai umumnya hidup sebagai nelayan, menangkap ikan dan lobster. Satu-satunya tempat pendidikan adalah SD Negeri Warabal, dimana proses belajar mengajar hanya menghadirkan guru saat menjelang ujian dan tahun ajaran baru.
Sejumlah anak-anak yang bersekolah di situ mengatakan guru mereka hanya datang dua kali setahun, selebihnya libur panjang. Para orang tua pun menyegel rumah para guru tersebut karena menganggapnya sebagai "percuma saja".
Pemandangan lain yang terlihat, di pulau ini sudah terdapat dua patok beton buatan Pertamina dan TNI Angkatan Laut, yang ditancapkan pada beberapa tahun lalu. Patok versi GDN ditancap di lokasi dengan koordinat berbeda dari dua patok pendahulunya.
Patok NKRI versi GDN terbuat dari baja (stenlis steel) dan pada bidangnya terdapat gambar burung Garuda, nama pulau, titik dasar koordinat, serta nama kabupaten dan Provinsi.
Di dalamnya, terdapat botol berisi pesan tertulis di atas kertas yang ditandatangani oleh seluruh anggota tim ekspedisi.
Penancapan prasasti NKRI itu sendiri selain sebagai tanda kepemilikan wilayah Indonesia, juga menarik garis sepanjang 12 mil dari pulau ke tengah laut sebagai wilayah hukum Indonesia.
Dari Penambulai, tim ekspedisi melanjutkan misi ke tujuh pulau terluar lainnya, yakni Pulau Mariri, Ararkula, Karaweira, Kultubai Utara, Kultubai Selatan, Enu, Karang, dan Batu Goyang.
Satu hal pasti, ekspedisi pemancangan prasasti NKRI di delapan pulau tersebut menghabiskan waktu lebih dari satu bulan, dan memberikan pengalaman menakjubkan bagi anggotanya.
"Keberanian kita benar-benar diuji,": demikian Daniel Leonard menutup penuturannya kepada redaksi Jurnal Sail Banda 2010. (Daniel Leonard)
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026