Beberapa minggu terakhir nama "enterobacter sakazakii" menjadi perbincangan banyak kalangan. Bahkan sejumlah media massa di Tanah Air mengulas habis mengenai bakteri tersebut dan menuangkannya di halaman depan. Hal itu berawal dari perintah Mahkamah Agung kepada Kementerian Kesehatan, BPOM dan IPB untuk mengumumkan nama produsen susu formula yang diduga terkontaminasi bakteri tersebut. Semua berawal dari gugatan salah seorang warga, David Tobing terhadap hasil penelitian itu dan menuntut pemerintah mengumumkan nama produsen susu. "enterobacter sakazakii" disebut-sebut merupakan bakteri yang mengontaminasi susu formula dan bisa berbahaya bagi bayi berusia nol sampai enam bulan. Kisruh mengenai bakteri tersebut mendorong BPOM membuat penelitian tandingan. Penelitian lanjutan yang dilakukan oleh BPOM dengan 96 sampel susu menunjukkan hasil bebas dari bakteri sakazakii. Untuk itu pemerintah meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak khawatir dengan dugaan susu formula yang terkontaminai bakteri. Seorang Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi Partai Demokrat Subagyo Partodiharjo mengatakan isu susu formula yang diduga tercemar bakteri "enterobacter sakazakii" adalah suatu berkah. "Mengapa saya bilang berkah? karena ini adalah momentum untuk menggencarkan kampanye ASI," katanya. Subagyo mengatakan ini merupakan tugas pemerintah untuk mengingatkan kembali akan pentingnya ASI kepada seluruh masyarakat. "Ingatkan kembali seluruh masyarakat bahwa ASI adalah asupan terbaik dan yang sangat-sangat murah," katanya. Ia menambahkan, selain menggencarkan kampanye ASI, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak harus menyosialisasikan soal pemeliharaan payudara yang baik. Tujuan memelihara payudara dengan baik adalah agar ASI terus lancar dan tidak ada masalah. "Selama ini banyak ibu yang tidak memberikan bayinya ASI dengan berbagai alasan, ASI nya tidak lancar atau ASI nya berhenti keluar dan lain sebagainya yang ada kaitannya dengan permasalahan payudara," katanya. Karenanya dia kembali mengatakan bahwa menjadi tugas pemerintah untuk melakukan kampanye ASI sekaligus pemeliharaan payudara yang baik agar ASI yang keluar bisa lancar. Dia juga berharap pemerintah benar-benar menangkap peluang yang ada yakni maraknya isu susu formula yang diduga tercemar bakteri. "Pemerintah harus menangkap peluang ini, gencarkan kampanye ASI saat masyarakat tengah was-was dengan isu susu formula yang diduga tercemar bakteri," katanya. Terkait isu susu formula yang diduga tercemar bakteri dia mengatakan bahwa pada saat ini yang paling penting adalah bukan masalah mengumumkan merek susu yang dimaksud. "Tidak terlalu penting lagi diumumkan soal merek susu yang diduga tercemar bakteri karena hal itu sudah lama berlalu, penelitian bertahun-tahun yang lalu, lebih baik kita ambil hikmahnya saja yakni peluang untuk menggencarkan kampanye ASI," katanya. Selain itu, dia juga meminta pemerintah untuk melarang total iklan susu formula di seluruh media massa jika ingin kampanye ASI berjalan efektif. "Kalau ingin menggemparkan kampanye ASI maka iklan susu formula harus dilarang," katanya. Ia menyebutkan hingga saat ini di beberapa media massa masih ada iklan susu formula untuk anak-anak maupun bayi. Bahkan iklan-iklan susu formula di sejumlah media massa tersebut menurutnya sangat mempesona dan membuat para ibu tergoda untuk membelinya. Bahkan jika perlu, dia meminta pemerintah untuk membuat iklan layanan masyarakat yang menarik terkait kampanye ASI. "Saya rasa tidak ada salahnya jika pemerintah mengganti strategi kampanye ASI dengan membuat iklan layanan yang menarik terkait ASI agar sebanding dengan iklan susu formula yang sering kita lihat di media massa," katanya. Air Susu Ibu Sementara itu, menanggapi isu bakteri Sakazakii, Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan pemerintah sangat tidak menganjurkan penggunaan susu formula bagi bayi berusia nol sampai enam bulan. Pemerintah menganjurkan orang tua untuk mengutamakan pemberian air susu ibu bagi anaknya, khususnya bagi bayi berusia nol hingga enam bulan," ucapnya. Agung juga menambahkan, dengan memberi ASI kepada anaknya maka para ibu tidak perlu khawatir lagi dengan dugaan adanya susu formula yang tercemar bakteri. Selain itu, dia juga mengatakan bayi yang terbiasa dengan asupan ASI terjamin akan memiliki tumbuh kembang yang baik dan sehat. Karenanya Menko Kesra meminta kementerian terkait di bawah koordinasinya melakukan sosialisasi yang lebih gencar dan efektif terkait pentingnya ASI. "Saya meminta Kementerian Kesehatan serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk terus menyosialisasikan tentang pentingnya ASI dan dilakukan secara lebih gencar lagi," katanya. Selain itu, Menko Kesra juga akan meminta kementerian dan lembaga lain di bawah koordinasinya untuk ikut menyosialisasikan pentingnya ASI kepada masyarakat. Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Agum Gumelar mengatakan kementeriannya selama ini telah melakukan sosialisasi tentang ASI. "Akan tetapi karena berbagai alasan maka masih ditemukan adanya orang tua yang tidak memberikan ASI kepada anaknya," katanya. Linda menyebutkan, ibu yang bekerja dan maraknya iklan susu formula di media massa yang dikemas dengan baik membuat sebagian kalangan tidak memberikan asupan ASI kepada anaknya. Untuk itu pihaknya akan menggencarkan kembali kampanye ASI kepada para ibu mulai dari tingkat kota hingga pedesaan. "Kami juga akan melibatkan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak d daerah-daerah untuk membantu penyebaran sosialisasi soal ASI ini," katanya. Linda juga menambahkan, kementeriannya akan melibatkan berbagai organisasi wanita yang ada di Indonesia agar pesan yang ingin disampaikan dalam kampanye ASI bisa sampai ke masyarakat hingga ke lapisan yang paling bawah. Menteri juga mengingatkan para ibu untuk memperhatikan beberapa hal terkait susu formula agar aman dikonsumsi, salah satunya adalah menyeduh susu dengan air panas yang bersuhu di atas 70 derajat Celcius yang dapat mematikan bakteri. "Dengan cara memasak susu yang baik mudah-mudahan bakteri yang dikhawatirkan bisa mati," katanya. Meski ada beberapa tips aman untuk enyeduh susu formula agar aman dikonsumsi menteri tetap meminta masyarakat mengutamakan pemberian ASI kepada bayi mereka khususnya pada usia nol hingga enam bulan. "Meskipun dengan berbagai cara penyeduhan yang baik dan pola hidup bersih bisa menghindarkan anak kita dari bahaya bakteri yang kemungkinan mencemari susu formula namun tetap lebih baik memberikan anak kita ASI," katanya. Terkait soal masih adanya iklan susu formula di televisi, menteri juga menyatakan keprihatinannya karena hal tersebut dirasa bertolak belakang dengan semangat kampanye ASI. "Saya akan mengkoordinasikan mengenai iklan itu dengan sejumlah pihak terkait," katanya. Yang pasti, Linda mengaku optimistis momentum maraknya isu bakteri yang diduga mencemari susu formula bisa mempermudah langkah pemerintah untuk melakukan kampanye ASI. "Jika seluruh ibu  sudah menerapkan pemberian ASI kepada bayi mereka maka tumbuh kembang anak Indonesia di masa mendatang akan lebih baik lagi," katanya. (Wuryanti Puspitasari)


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026