Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat pendapatan petani di daerah setempat berupa nilai tukar petani (NTP) pada Pebruari 2011 sebesar 103,20 dan menurun dibanding Januari 2011 sebesar 103,96 atau 0,74 persen.
Kepala BPS Provinsi Maluku, Edison Ritonga di Ambon, Minggu mengatakan, penyusutan pendapatan petani berlangsung sejak akhir 2010 bersamaan musim hujan yang merendam ratusan hektare sawah milik petani di dataraan Waeapo, Kecamatan Buru dan Kobisonta (Seram Utara), Kabupaten Maluku Tengah hingga terjadi gagal panen.
Sementara untuk masing-masing sub sektor seperti tanaman pangan (NTP-P) mengalami kenaikan sebesar 0,06 persen, hortikultura (NTP-H) naik 0,55 persen, tanaman perkebunan rakyat (NTP-R) naik 2,26 persen, peternakan (NTP-Pt) turun 0,53 persen dan sub sektor perikanan naik sebesar 0,61 persen.
Pada Pebruari 2011 terjadi inflasi pedesaan di Maluku sebesar 0,18 persen yang dipengaruhi fluktuasi harga di tiap-tiap kelompok pengeluaran rumah tangga yakni kelompok bahan makanan naik 0,05 persen, kelompok perumahan naik 0,31 persen dan kelompok makanan jadi, minuman serta rokok 0,60 persen.
Kemudian untuk kelompok sandang mengalami penurunan sebesar 0,09 persen, kelompok kesehatan turun 0,39 persen, pendidikan, rekreasi dan olah raga naik 0,23 persen serta kelompok transportasi dan komunikasi mengalami kenaikan 0,11 persen.
Andil inflasi Februari ini menurut kelompok pengeluarannya terdiri dari bahan makanan sebesar 0,04 persen, menyusul makanan jadi, minuman dan rokok serta tembakau 0,10 persen, perumahan 0,04 persen, sandang 0,00 persen, kesehatan -0,01 persen, pendidikkan, rekreasi dan olah raga 0,01 persen serta kelompok transportassi dan komunikasi memberikan andil sebesar 0,01 persen.
"Pengeluaran rumah tangga ditambah pembelian pupuk, bibit, alat pertanian maupun bayar sewa jasa petani yang cukup tinggi kalau tidak berimbang dengan penpatan dari hasil penjualan pertanian tentunya akan membuat pendapatan petani tidak mengalami kenaikan yang berarti," katanya.
Karena NTP yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar, merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan.
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.