Cuaca buruk berupa angin kencang disertai gelombang laut yang tinggi dan hujan lebat selama sepekan ini menghambat pelayaran Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Lobster yang melayari rute Kota Tual menuju Dobo, Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. "KMP Lobster sudah seminggu tidak berlayar dan masih berlabuh di pelabuhan Kota Tual karena kondisi cuaca yang sangat tidak bersahabat," kata Kepala Syahbandar pelabuhan Dobo, Bram Amahoru yang dihubungi dari Ambon, Rabu. Langkah ini biasanya diambil pihak KMP Lobster setelah mendapat informasi dari BMKG tentang kondisi cuaca yang buruk dan tingginya gelombang laut di atas dua meter. Apalagi kalau dinas terkait telah mengeluarkan larangan berlayar, maka pihak ASDP sudah harus mematuhinya demi mencegah terjadinya musibah di laut yang akan menelan korban jiwa dan harta benda. Menurut Bram, situasi perairan laut Banda hingga Kepulan Aru dan laut Arafura sealu dalam kondisi bergolak antara Januari hingga bulan Juni atau Juli dan tidak jarang menelan korban jiwa. Dia mencontohkan tenggelamnya kapal penangkap ikan KM. Bonikom dan sebuah speed boat yang mengangkut puluhan Warga Negara Asing (WNA) asal China yang tenggelam di perairan Aru antara Januari - Februari 2010. Sehingga untuk mencegah terulangnya peristiwa tragis seperti ini, KMP Lobster tidak berani mengambil resiko berlayar dari pelabuhan Tual menuju Dobo, meskipun perjalanannya memerlukan waktu tujuh hingga delapan jam. KPM Lobster memiliki kapasitas angkut penumpang sekitar 200 orang ditambah muatan berupa mobil dan sepeda motor ini diperkirakan akan kembali beroperasi awal April, setelah mempertimbangkan kondisi cuaca yang makin membaik. Sejumlah calon penumpang dari Kota Tual terpaksa membeli tiket pesawat seharga Rp750.000 menuju kota Dobo karena ada keperluan penting dan mendadak. "Penerbangan Tual-Dobo hanya membutuhkan waktu 20 menit tapi harga tiketnya cukup mahal, tapi terpaksa kami membeli tiket untuk mengejar waktu kerja," kata Ny. Sri Hartati.


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026