Ambon (Antara Maluku) - Produksi pertanian dan perkebunan di Maluku selama beberapa tahun teakhir ini memang membuahkan hasil, namun perkembangannya relatif menurun akibat sejumlah persoalan.

"Bahkan, ada sejumlah komoditas seperti pala menunjukkan penurunan produksi," kata Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu di Ambon, Kamis.

Kondisi ini berkaitan erat dengan usia tanaman perkebunan pala yang umumnya relatif sudah tua, ditambah makin berkurangnya luas areal penanaman serta adanya perubahan cuaca yang mengganggu musim tanam dan panen.

Hasil produksi dari bidang pertanan telah berhasil meningkatkan produksi sub sektor pertanian tanaman pangan dari 251,37 ribu ton tahun 2009 menjadi 268,74 ribu ton pada 2010.

Kemudian untuk hasil produksi perkebunan seperti komoditas kelapa juga mengalami peningkatan dari 72,23 ribu ton tahun 2009 menjadi 75,80 ribu ton setahun kemudian, sama halnya dengan hasil produksi komoditas cengkeh yang mencapai 11,23 ribu ton tahun 2010 dibanding tahun sebelumnya sebesar 10,66 ribu ton.

Menurut Ralahalu, peningkatan hasil-hasil produksi pertanian dan perkebunan yang relatif melambat ini perlu diantasi degan menyusun program peremajaan tanaman dan perluasan areal tanaman perkebunan.

"Prioritasnya adalah mengembangkan lahan penanaman komoditas pala, cengkeh dan kelapa," katanya.

Selain itu, pemerintah daerah juga memprogramkan perluasan areal tanam dan meningkatkan hasil produksi tanaman pangan seperti padi dan umbi-umbian serta jagung guna meningkatkan ketahanan pangan lokal sekaligus mewujudkan program Pulau Mandiri Pangan di Maluku.

Pulau Buru dan Pulau Seram akan dikembangkan sebagai lumbung pangan di Maluku, khususnya swasembada beras.

Pewarta: Daniel Leonard
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026