"Dengan mandiri beras pada 2014, kami tidak lagi membeli dari daerah lain. Untuk itu, produksi beras di Maluku sudah harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah ini," katanya kepada wartawan Senin.
Ia menjelaskan, untuk memenuhi target tersebut pihaknya akan melakukan upaya ekstensifikasi, yakni pencetakan lahan sawah baru sebanyak 2.580 hektare di kabupaten Buru, Maluku Tengah, Seram Bagian Timur, dan Seram Bagian Barat.
"Tahun ini pencetakan sawah baru sebanyak 1.500 hektare di kecamatan Seram Utara, kabupaten Maluku Tengah, 500 hektare di kabupaten Buru, 500 hektare untuk Seram Bagian Timur, dan sisanya di kabupaten Seram Bagian Barat," katanya.
Sabirin mengatakan, pihaknya akan mengundang Menteri Pertanian Suswono, untuk melakukan penanaman perdana di pulau Buru, pada musim tanam pertama, yakni Minggu kedua bulan April 2012.
"Saya dan Bupati Buru sedang mengupayakan, agar Suswono bisa melakukan penanaman perdana di Buru," katanya.
Untuk meniadakan pasokan beras dari luar Maluku pada 2014, tak hanya program ekstensifikasi, Distan setempat juga melakukan intensifikasi pada 11.000 lebih hektar lahan baku sawah yang telah berproduksi.
Sabirin mengatakan, 11 ribu lebih hektar lahan sawah tersebut, menghasilkan sedikitnya 4,2 hingga 4,5 ton gabah kering giling per satu kali musim tanam. Produksi tersebut belum mencukupi kebutuhan 1,5 juta penduduk Maluku.
"Produksi beras Maluku saat ini belum mencukupi kebutuhan di daerah. Program intensifikasi dilakukan dengan memasok bibit unggul, memperhatikan pemupukan berimbang, dan pertumbuhan padi," katanya.
Ia berharap, dengan program intensifikasi produksi gabah kering giling di Maluku, dapat meningkat menjadi 5 ton per sekali musim tanam, sehingga bisa menghasilkan sedikitnya 10 ton per tahun.
"Jika ini berjalan baik, maka sawah di Maluku bisa menghasilkan 10 ton gabah kering giling per tahunnya," ucap Syuryadi Sabirin.
Pewarta: Shariva Alaidrus: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.