"Transaksi sekarang ini agak sepi," kata salah satu pedagang dan tukang perbaikan emas di depan sebuah toko di kawasan jalan J. Latu har - hari, di Ambon, Kamis.
Yang terjadi, lanjutnya, malahan masyarakat yang datang bukan menjual atau membeli tapi memperbaiki barang yang rusak.
"Setiap hari memang ada saja, baik anting, gelang maupun giwang untuk disolder penyambungan untuk yang putus dan pencucian, namun dalam ukuran yang kecil," katanya.
Menurutnya, ongkos sekali solder penyambungan bagi barang yang putus dipatok Rp20 ribu, kalau cuci Rp15 ribu.
"Hitung - hitung dari pagi saya baru berhasil mendapatkan Rp40 ribu dari hasil perbaiki dua buah anting yang putus," katanya.
Ibu Ona (50), pedagang pembeli dan penjual yang hari - harinya menempati salah satu sudut jalan di depan Kantor Pegadaian Cabang Ambon, mengatakan, seusai liburan idul fitri hingga kini transaksi emas masih sepi.
Dia mengakui kalau sejak pagi hingga siang hari baru berhasil membeli emas seberat 4 gram dalam bentuk cincin dengan harga yang dipatok Rp420 ribu per gram, karena barangnya utuh.
"Lain hal kalau barangnya rusak atau patah harganya berkisar antara Rp380 ribu hingga 400 ribu per gram," katanya.
Hamid, pemilik Toko Emas Mujur di kawasan Matahari Ambon Plaza, yang ditemui mengatakan, transaksi jual beli emas di Kota Ambon belakangan ini masih sepi.
"Sepinya sudah terasa sejak bulan puasa berlangsung hingga selesai idil fitri," ujarnya.
"Kalau hari raya Idul Fitri Agustus kemarin masyarakat yang datang membeli emas untuk berdandan hanya berupa anting dan gelang dengan ukuran kecil," katanya.
Sedangkan harga emas 23 karat di Kota Ambon mencapai Rp540.000 per gram.
Pewarta: ANTARA: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.