Sejumlah Pengelola SPBU di Ternate, Abu Hamzah ketika dihubungi Senin, mengaku dalam tiga hari terakhir mereka hanya beroperasi lima jam sehari, tiga jam pagi dan dua jam sore, karena BBM yang mereka terima terbatas.
Pihak SPBU tersebut tidak merinci secara jelas jumlah BBM yang mereka terima dari Pertamina setiap hari dalam tiga hari terakhir, mereka menyatakan BBM itu habis dalam waktu lima jam.
Namun, sejumlah pemilik kendaraan di Ternate menduga SPBU sebenarnya menerima pasokan BBM dari Pertamina dalam jumlah cukup, akan tetapi pengelola SPBU sengaja menyimpannya untuk mencari keuntungan pribadi.
"Kami setiap malam melihat ada mobil bak terbuka membawa jerigen ke SPBU dan kemudian mengisi BBM jenis premium atau solar ke jerigen,¿ kata salah seorang sopir angkutan kota di Ternate, Sutrisno.
Pembeli solar dan premium yang menggunakan jerigen tersebut diduga pengecer BBM di Kota Ternate yang selama ini telah menjalin kerjasama secara diam-diam dengan petugas SPBU.
"Ini aneh, premium dan solar di SPBU kosong tapi pada pengecer BBM di Kota Ternate melimpah. Mereka menjualnya dengan harga Rp15 ribu per liter," katanya.
Padahal, sesuai ketentuan, SPBU tidak boleh melayani pembelian BBM di SPBU menggunakan jerigen, tapi ketentuan itu tidak dilaksanakan oleh SPBU dan ironisnya pihak terkait juga mendiamkannya.
Anggota DPRD Kota Ternate, Asghar Saleh ketika dikonfirmasi menyesalkan terjadinya kelangkaan BBM tersebut, karena membawa akibat buruk pada aktivitas ekonomi masyarakat.
Karena itu, kata Asghar, DPRD akan memanggil Pemkot Ternate dan Depot Pertamina Ternate untuk membicarakan soal kelangkaan BBM di daerah ini, kalau dibiarkan akan menimbulkan keresahan pada masyarakat.
Pewarta: Abdul Fatah: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.