"Transaksi jual emas sekarang ini agak sepi,"kata Udin pedagang dan juga tukang perbaikan dan cucian emas pinggiran di depan toko Djiwangi di kawasan jalan J. Latuharhari, Ambon, Kamis.
Menurut dia yang terjadi malahan masyarakat datang bukan menjual atau membeli tapi memperbaiki barang yang rusak.
"Setiap hari memang ada saja, anting, gelang maupun giwang untuk penyambungan yang putus dan pencucian, namun dalam ukuran yang kecil," katanya.
Dia menjelaskan, ongkos perbaiki, sekali solder penyambungan yang putus dipatok bervariasi kalau hanya patah satu titik diminta Rp20.000 kalau selebihnya Rp25.000 hingga Rp30.000, sedangkan hanya cuci saja Rp15 ribu.
Ibu Rosiana (50), pedagang emas yang menempati salah satu toko yang berhadapan langsung dengan Matahari Amgbon Plaza, mengatakan, sejak awal bulan Juni kegiatan transaksi sangat sepi sekali.
"Saya sendiri sudah tiga hari belum berhasil membeli atau menjual emas, padahal biasanya walaupun sepi pasti saja ada masyarakat yang datang menjual tapi tiga hari belakangan ini belum ada," ujarnya.
Dia mengakui kalau harga emas yang dipatok pedagang pinggiran sedikit menurun jika dibandingkan dengan dua minggu yang lalu.
"Emas yang kami jual kepada masyarakat turun dari Rp500.000 menjadi Rp450.000 per gram, sedangkan yang dibeli dari masyarakat kalau yang masih utuh Rp400.000 hingga Rp420.000 per gram, tergantung barangnya," ujarnya.
Sedangkan barang yang sudah rusak, lanjutnya, dibeli dengan harga Rp380.000 per gram, itupun kami teliti lebih dahulu.
Hamid, pemilik Toko Emas Mujur di kawasan Matahari Ambon Plaza, yang ditemui mengatakan, transaksi jual beli emas di Kota Ambon belakangan ini masih sepi.
"Sepinya sudah terasa sejak bulan awal Juni bahkan Mei 2013 lalu sampai sekarang ini belum ada transaksi jual beli emas.
Mungkin saja karena harga emas lagi turun, lanjutnya, karena itu masyarakat enggan untuk menjual barangnya.
Pewarta: Shariva Alaidrus: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.