Fair Ohorella, demikian nama lengkapnya, berada di sana bersama 159 anak lain untuk mengikuti kegiatan "Coke Kicks - Grass Root Development Program" yang digagas Coca Cola Amatil Indonesia bekerja sama dengan Asian Soccer Academy (ASA), Minggu.
Bagi Fair, mengikuti program sejenis ajang pencarian bakat ini merupakan salah satu cara agar dirinya bisa melangkah maju jauh ke depan.
"Saya ingin bermain sehebat Neymar," katanya, saat ditemui pada waktu jeda kegiatan.
Neymar da Silva Santos Junior adalah pemain asal Brazil yang kini merumput di raksasa klub sepak bola Spanyol Barcelona, dan memegang rekor transfer pemain termahal di dunia.
Coke Kicks 2013 yang diikuti Fair merupakan kegiatan terakhir, setelah sebelumnya digelar di Cibitung-Bekasi, Medan, Padang, Lampung, Surabaya, Semarang, Jogja, Samarinda, Bali, dan Kupang.
Program pengembangan bakat para calon bintang lapangan hijau ini membidik sedikitnya 4.000 anak dari 120 desa di Tanah Air, untuk memberikan mereka pelatihan bermutu dan juga kelengkapan perangkat sepak bola.
Kegiatan di Rindam XVI Pattimura bertujuan mencari lima hingga delapan pemain terbaik yang nantinya akan diserahkan ke pihak Coca Cola Amatil Indonesia maupun ASA untuk program pengembangan selanjutnya.
Fair dan anak-anak yang lain diminta untuk memeragakan bagaimana kemampuan mereka bermain sepak bola dan berjuang untuk meraih gelar pemain terbaik.
Selain dua pelatih dari ASA, Helmy Haikal dan Ibnu Hajar, penilaian juga melibatkan delapan pelatih lokal.
Ada pun kriteria penilaian untuk gelar "best player" mencakup beberapa kemampuan dasar bermain sepak bola, yakni keterampilan individu, kemampuan menggiring bola, dan akurasi tendangan, selain disiplin dan keuletan.
Apakah Fair yakin bisa lolos?
"Saya akan berusaha menunjukkan skill sebaik mungkin," katanya.
"Cahaya dari Timur"
Mulai menyukai permainan sepak bola sejak usia delapan tahun, kemampuan dan bakat Fair tampaknya tidak dapat dipandang enteng.
Buktinya, bocah kelahiran Tulehu, 17 Maret 2002 ini terpilih untuk membintangi sebuah film berjudul "Cahaya dari Timur" garapan sutradara Angga Sasongko.
"Saya jadi Salembe Ohorella, pemain sepak bola," katanya terkait perannya dalam film tersebut.
Ia mengatakan kegiatan pengambilan gambar (syuting) akan dilaksanakan tanggal 20 Oktober 2013.
Diproduseri musisi terkenal Glenn Fredly, film tersebut mengangkat kisah nyata anak-anak sebuah desa di Maluku yang sanggup menjuarai lomba sepak bola nasional meskipun saat itu konflik horisontal masih berkecamuk.
Menurut Glenn, salah satu pemain mantan tim sepak bola tersebut kini bahkan bermain di Belanda.
Satu hal pasti, "Cahaya dari Timur" diharapkan bisa menginspirasi soal perdamaian dan kegigihan mencapai mimpi dimana sepak bola menjadi keyakinan untuk menciptakan masa depan yang jauh lebih baik.
Dalam upaya menggapai angannya menjadi pemain kenamaan dan masuk tim nasional Indonesia, Fair mengaku siap hijrah ke Jakarta.
"Saya mau sekolah di Jakarta, kalau sudah SMA, sekaligus sekolah bola di Ragunan," kata bungsu dari tiga bersaudara anak pasangan Abdul Samad Ohorella dan Rukiyah Tuasalamoni itu.
Mampukah bocah Tulehu ini kelak memancarkan cahaya terang dari desanya dan mengikuti jejak pendahulunya semacam Ramdhani Lestaluhu, Hasyim Kippu, atau bahkan menjadi pemain sehebat Messi dan Neymar?
Tentu hanya waktu yang dapat memberi jawab.
Pewarta: John Nikita SahusilawaneEditor : John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026