Ambon (ANTARA) - Senja mulai menyelimuti sejumlah sudut di Kota Ambon, Maluku. Aroma gorengan yang baru diangkat dari wajan bercampur dengan wangi kolak pisang dan es buah tersusun rapi di meja-meja kecil di pinggir jalan.

Di antara keramaian itu, orang-orang datang silih berganti. Ada yang mengenakan peci, ada pula yang datang dengan kalung salib. Mereka berkumpul di tempat yang sama: berburu takjil.

Bulan Ramadhan di Maluku bukan hanya tentang ibadah bagi umat Muslim. Ia juga menghadirkan ruang perjumpaan yang hangat bagi masyarakat yang hidup berdampingan dalam keberagaman. Di banyak tempat, berburu takjil atau biasa disebut "war takjil" itu justru menjadi ruang kecil tempat toleransi tumbuh secara alami.

Menjelang waktu berbuka, pedagang mulai sibuk melayani pembeli. Tak hanya umat Muslim yang berburu makanan untuk berbuka puasa. Banyak warga non-Muslim yang turut datang membeli takjil.

Bulan Ramadhan di Maluku memang kerap menghadirkan ruang perjumpaan yang hangat bagi masyarakat yang hidup dalam keberagaman. "War takjil" menjadi salah satu tempat di mana interaksi lintas agama terjadi secara alami dalam kehidupan sehari-hari.

Di Ambon, setiap memasuki Ramadhan, hampir semua sudut penuh dengan dagangan takjil. Mulai dari di pusat kota depan Masjid Raya Al-Fatah, Daerah Nania, Batu Merah, hingga di lorong-lorong kompleks yang jauh dari keramaian pun. Meskipun banyak, berbagai takjil itu pasti habis diborong warga.

Di beberapa lokasi, tak jarang penjual takjil justru berasal dari kalangan non-Muslim. Mereka tetap berjualan setiap Ramadhan karena sudah menjadi tradisi tahunan sekaligus sumber penghasilan tambahan. Bagi mereka, Ramadhan adalah momentum kebersamaan yang telah lama hidup dalam masyarakat Maluku.

Selain itu, bagi sebagian warga Kristiani, berburu takjil saat Ramadhan sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan setiap tahun. Meski tidak menjalankan ibadah puasa, mereka tetap datang untuk membeli makanan sekaligus merasakan suasana Ramadhan yang ramai dan penuh kebersamaan.

“Saya tidak puasa, tapi tiap Ramadhan tetap datang beli takjil. Kadang buat makan di rumah, kadang juga buat teman-teman yang puasa. Suasananya ramai dan menyenangkan,” kata Florensia, seorang warga Kristen yang ditemui saat membeli takjil di depan Masjid Raya Al-Fatah Ambon.

Hal serupa juga disampaikan Fernando, warga Kristen lainnya. Ia mengaku sering membantu temannya yang Muslim membeli makanan berbuka puasa.

“Kalau teman-teman kantor lagi puasa, saya biasa ikut beli takjil juga. Kadang saya yang bantu beli kalau mereka masih kerja. Sudah biasa begitu, jadi terasa biasa saja, tapi sangat seru,” ujarnya.

Di sisi lain, masyarakat Muslim juga tidak mempermasalahkan hal tersebut. Hubungan yang terjalin di antara penjual dan pembeli lebih dari sekadar transaksi jual beli. Ada sapaan hangat, candaan singkat, hingga cerita keseharian yang membuat suasana terasa akrab.

Bagi sebagian warga, berburu takjil bahkan menjadi aktivitas sosial. Banyak orang sengaja datang lebih awal, berjalan menyusuri deretan lapak, sekadar melihat-lihat atau berbincang dengan penjual yang sudah mereka kenal.

Pemandangan seperti ini bukanlah hal baru di Maluku. Sejak lama masyarakat hidup dalam keberagaman agama dan budaya. Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi lintas keyakinan sudah menjadi bagian dari rutinitas, termasuk saat Ramadhan tiba.

“Di sini memang sudah biasa. Teman-teman yang Kristen juga sering datang beli takjil atau sekadar duduk cerita sambil tunggu waktu buka. Kita semua sudah seperti keluarga,” kata Rahmat, warga Muslim yang sedang menunggu waktu berbuka di halaman Masjid Jami Ambon.

Hal yang sama disampaikan Nur Aini, salah seorang pedagang takjil. Ia menilai suasana Ramadhan di Maluku selalu terasa hangat karena masyarakat saling menghargai satu sama lain.

“Kalau Ramadhan, banyak juga teman-teman yang non-Muslim datang beli takjil. Kita senang saja karena itu tanda mereka juga menghargai orang yang puasa,” ujarnya.

Asal-usul takjil

Istilah takjil berasal dari bahasa Arab yang bermakna menyegerakan atau mempercepat. Kata ini berakar dari kata ajjala–yu’ajjilu yang berarti mempercepat sesuatu. Dalam konteks ibadah puasa, makna tersebut kemudian dipahami sebagai anjuran untuk segera membatalkan puasa ketika waktu berbuka telah tiba.

Anjuran tersebut juga tercantum dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat Sahih Bukhari disebutkan bahwa seseorang akan senantiasa berada dalam kebaikan selama ia menyegerakan berbuka puasa. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk tidak menunda waktu berbuka ketika azan magrib telah berkumandang.

Dalam praktik yang dicontohkan Nabi, berbuka puasa dilakukan dengan cara sederhana, seperti memakan kurma atau meminum air putih terlebih dahulu. Tujuannya bukan langsung menyantap makanan besar, melainkan sekadar membatalkan puasa sebelum melanjutkan makan setelahnya.

Berbagai macam dagangan takjil di Ambon. (ANTARA/Winda Herman)

Seiring waktu, terjadi pergeseran makna istilah takjil  dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Takjil tidak lagi dipahami sekadar sebagai tindakan menyegerakan berbuka, tetapi lebih dikenal sebagai makanan atau minuman ringan yang disantap saat berbuka puasa.

Tradisi dan ruang kebersamaan

Berbagai jenis makanan kemudian identik dengan takjil, mulai dari gorengan, kolak, es buah, hingga beragam kue tradisional. Banyak dari jajanan tersebut bahkan lebih mudah ditemukan saat Ramadhan dibandingkan hari-hari biasa.

Keragaman makanan inilah yang membuat tradisi berburu takjil semakin semarak. Tidak hanya umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa, masyarakat dari berbagai latar belakang juga ikut meramaikan deretan penjual takjil di pinggir jalan.

Fenomena yang belakangan populer disebut sebagai “war takjil” sebenarnya tidak dimaknai sebagai persaingan dalam arti negatif. Istilah tersebut lebih menggambarkan keramaian masyarakat yang berburu makanan berbuka dengan penuh keceriaan.

Dalam praktiknya, tradisi ini juga menjadi ruang interaksi sosial yang mempertemukan masyarakat lintas agama. Siapa pun dapat menikmati ragam makanan berbuka yang dijajakan pedagang tanpa memandang latar belakang keyakinan.

Bagi para pedagang kecil, ramainya pembeli saat Ramadhan tentu membawa dampak ekonomi yang positif. Semakin banyak orang yang datang membeli takjil, semakin besar pula peluang mereka memperoleh tambahan penghasilan. Dengan begitu, tradisi berburu takjil tidak hanya menghadirkan kebersamaan, tetapi juga menjadi berkah ekonomi bagi masyarakat.

Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena menegaskan, Pemerintah Kota Ambon terus berupaya memberi ruang yang sama bagi seluruh umat beragama melalui berbagai kegiatan dan festival keagamaan yang digelar sepanjang tahun.

“Kita mulai dengan Festival Santa Klaus, Imlek, Festival Ramadhan, dan bahkan nanti di bulan Maret akan ada festival ogoh-ogoh bagi umat Hindu, serta Waisak bagi umat Buddha dan jalan salib umat Katolik. Semua ini dukungan fasilitasi Pemkot kepada umat beragama agar semua meyakini bahwa Pemkot ada untuk semua umat beragama, tidak membeda-bedakan,” kata Bodewin.

Menurut dia, suasana Ramadhan di Kota Ambon selalu menghadirkan ruang kebersamaan yang terasa kuat di tengah masyarakat. Salah satu yang paling terlihat adalah ramainya warga berburu takjil menjelang waktu berbuka puasa di berbagai sudut kota.

Ia menilai fenomena “war takjil” yang ramai di kalangan masyarakat justru memperlihatkan wajah toleransi yang hidup secara alami di Ambon. Warga dari berbagai latar belakang agama ikut meramaikan suasana tersebut, baik sebagai pembeli maupun pedagang.

“Kalau kita lihat di lapangan, banyak sekali masyarakat yang datang berburu takjil. Bukan hanya umat Muslim, tetapi juga saudara-saudara kita dari agama lain yang ikut meramaikan. Ini menunjukkan bahwa kehidupan toleransi di Ambon benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, Wali Kota berharap, meski dilaksanakan secara sederhana, berbagai kegiatan Ramadhan tahun ini dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Kota Ambon.

“Saya dan wakil wali kota punya mimpi besar bagi kota ini, yaitu paling tidak selama lima tahun dapat memberikan perubahan yang positif. Tidak hanya bicara soal memperbaiki fisik kota, tetapi yang terpenting meletakkan dasar, membangun karakter dan spiritualitas masyarakat Kota Ambon supaya menjadi kekuatan bersama, terutama untuk memastikan kehidupan toleransi antarumat beragama,” jelasnya.

Ia menambahkan, kegiatan keagamaan yang difasilitasi pemerintah kota juga diharapkan mampu memberi ruang bagi masyarakat untuk menjalankan ibadah dengan nyaman sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga semangat persaudaraan yang telah lama menjadi ciri kehidupan warga Ambon. 

“War takjil” akhirnya menjadi simbol kecil dari harmoni itu. Di tempat sederhana, di antara jajanan berbuka dan keramaian menjelang magrib, toleransi tidak dibicarakan dalam pidato atau slogan. Ia hadir dalam bentuk yang paling sederhana: saling menghargai, saling membantu, dan hidup berdampingan dengan damai.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Berburu takjil jadi ruang toleransi di Maluku



Uploader : Moh Ponting

COPYRIGHT © ANTARA 2026