"Kami telah berkunjung ke berbagai pulau di Malut dan melihat banyak bantuan yang diberikan pemda kepada nelayan setempat yang tidak memberi manfaat apa-apa bagi nelayan, padahal bantuan itu diberikan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan," katanya di Ternate, Selasa.
Ia mencontohkan bantuan kapal ikan yang berikan pemda kepada nelayan di Kabupaten Pulau Morotai, dibiarkan nelayan berlabuh di pantai hingga rusak, karena nelayan setempat tidak mau menggunakannya ketika pergi menangkap ikan.
Nelayan di Pulau Morotai, kata Edi Langkara, lebih suka menggunakan perahu katinting untuk pergi menangkap ikan, karena biaya operasionalnya lebih murah dan tidak harus melibatkan banyak personel, berbeda dengan kapal ikan bantuan pemda yang harus menggunakan biaya operasional yang cukup besar, terutama untuk pembelian bahan bakar dan harus berkelompok.
Begitu pula bantuan budidaya rumput laut yang diberikan pemda kepada nelayan di berbagai daerah di Malut, banyak yang gagal karena nelayan yang diberi bantuan budidaya rumput laut itu justru lebih memilih menangkap ikan sesuai kebiasaan mereka secara turun temurun, ujar Edi Langkara.
Menurut dia, semua itu terjadi karena pemda ketika memberikan bantuan lebih mengedepankan pendekatan proyek dan pemilihan jenis bantuan hanya didasarkan pada keinginan pemda, bukan pada kebutuhan nelayan.
"Oleh karena itu, ke depan pemda ketika akan memberikan bantuan kepada nelayan harus bertanya dulu kepada nelayan bantuan apa yang mereka butuhkan dan sesuai dengan keinginannya serta setelah memberikan bantuan harus dibarengi dengan pengawasan serta pendampingan," katanya.
Selain itu, kata Edi Langkara, pemda juga harus memikirkan langkah lanjut setelah pembelian bantuan itu, misalnya ketika memberikan bantuan budidaya rumput laut kepada nelayan maka pemda harus pula memikirkan bagaimana membantu nelayan untuk memasarkan produksi budidaya rumput lautnya.
Pewarta: La Ode Aminuddin: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.