Ambon (ANTARA) - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Ambon, Maluku, menjual sayuran hidroponik yang dikelola dan dipanen warga binaan pemasyarakatan (WBP) ke sejumlah supermarket di kota ini untuk pembinaan kemandirian bagi warga binaan sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional.
“Sekurangnya ada tiga supermarket lokal yang meminati sayuran hidroponik dari Lapas Ambon,” kata Pelaksana Harian Kepala Lapas Kelas IIA Ambon Andi Baso, di Ambon, Selasa (5/8).
Menurutnya, dengan sistem hidroponik atau menanam tanpa tanah dengan memanfaatkan larutan nutrisi dinilai efektif di lingkungan lapas yang memiliki keterbatasan lahan, dengan masa panen yang relatif singkat, yakni 10-15 hari sejak penyemaian.
Dari media tanam hidroponik yang disediakan, dalam sekali panen dapat menghasilkan 18-20 kilogram selada untuk kemudian dipasarkan melalui supermarket yang ada.
“Selada hidroponik itu kami kemas dalam satu plastik berukuran kecil dan dijual Rp10.000 per satu kantung plastik,” ujarnya pula.
Keuntungan dari penjualan itu dimanfaatkan untuk kebutuhan warga binaan. Tak jarang warga binaan yang aktif mengelola hidroponik juga diberikan insentif atas tenaga yang dikeluarkan.
Dirinya melanjutkan program pertanian ini tidak hanya fokus pada hasil produksi, tetapi juga pada pembentukan keterampilan dan karakter warga binaan.
“Budi daya hidroponik menjadi sarana pembinaan modern. Mereka belajar keterampilan bertani yang bisa dikembangkan setelah bebas, membuka peluang usaha dan mendorong kemandirian,” ujarnya.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk transparansi serta pembuktian bahwa proses rehabilitasi dalam Lapas menghasilkan karya nyata yang bermanfaat.
Selain nilai ekonomi, kegiatan bertani juga memberi efek psikologis positif bagi WBP. Aktivitas menanam dan memanen membantu mengurangi stres, menumbuhkan tanggung jawab, dan meningkatkan motivasi untuk memperbaiki diri.
Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Maluku Ricky Dwi Biantoro, menyampaikan dukungan penuh terhadap program pertanian yang dijalankan di seluruh Lapas dan Rutan di wilayahnya.
“Kegiatan ini sejalan dengan Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Bapak Agus Andrianto, yang menekankan pemberdayaan warga binaan dalam mendukung ketahanan pangan. Ini juga merupakan wujud nyata dari Astacita Presiden dan Wakil Presiden dalam membangun kemandirian bangsa melalui swasembada pangan,” kata Ricky lagi.
Melalui program kemandirian seperti hidroponik ini, Lapas Ambon membuktikan bahwa di balik jeruji masih ada ruang untuk tumbuh, berkarya, dan menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi warga binaan.
Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul AzisEditor : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026