"Setiap musim ombak keras, kami tidak bisa tidur nyenyak di malam hari, takut terpaan ombak menghantam rumah kami yang kebanyakan berada di bibir pantai," kata salah seorang warga Kulaba Ibrahim di Ternate, Selasa.
Ia juga menyatakan terpaan ombak sudah merusak sejumlah rumah warga, termasuk di antaranya rumah peristrahatan Sultan Ternate Mudjafar Sjah (almarhum).
"Padahal rumah itu memiliki nilai sejarah yang berharga bagi daerah ini," katanya.
Ibrahim mengatakan, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan rumah warga yang berada di garis pantai Kulaba adalah membangun talud pantai, karena kalau merelokasi warga ke tempat lain tidak mudah mengingat di Ternate saat sangat sulit mendapatkan lahan baru.
Pemkot Ternate beberapa tahun lalu telah membangun sarana pemecah ombak di pantai Kulaba berupa balok beton, tetapi pembuatannya tidak rampung dan jumlahnya hanya sedikit sehingga tidak mampu menahan terpaan air laut.
Pemerhati lingkungan di Ternate, Saiful mengatakan, masalah ancaman ombak terhadap rumah warga di Kulaba itu merupakan suatu kelalaian baik pemerintah daerah maupun masyarakat, khususnya dalam upaya mencegah abrasi pantai.
Menurut dia, Pemkot Ternate dan masyarakat Kulaba seharusnya sejak dulu mencegah abrasi pantai dengan cara menjaga kelestarian lingkungan sekitar.
"Misalnya menanam bakau dan tidak mengambil pasir pantai untuk bahan bangunan. Tanaman bakau sangat efektif untuk mengatasi abrasi," katanya.
Membangun talud pantai, kata dia, memang merupakan solusi, tetapi sifatnya tidak akan bertahan lama apalagi kalau pemeliharaan tidak dilakukan.
Pewarta: Abdul Fatah: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.