Ternate (ANTARA) - Masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh ketangguhan desa-desanya. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa peningkatan daya saing desa merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan. Komitmen ini bukan hanya wacana, ia hidup dan diuji dalam laboratorium nyata di Pulau Morotai, Maluku Utara.
Di sini, guru terbesar bukan teori dari buku, melainkan pengalaman bertahan hidup para transmigran yang bergulat dengan hama babi, pasar yang sepi, dan upaya menyatukan keragaman budaya. Di tanah bersejarah pendaratan Jenderal MacArthur ini saya dan Tim Patriot UI Universitas Indonesia pada 2025 menyaksikan resep nyata daya saing desa.
Ia lahir dari rahim pengalaman warga, lalu disempurnakan dengan ilmu dan kebijakan yang berpihak. Semua itu terwujud dalam pertemuan inspiratif antara seorang Ompala (Kepala Desa) bernama Johan Mardiono anak transmigran yang hidupnya adalah kitab ketangguhan.
Semuanya berawal dari laut pada akhir 2001. Seorang remaja 17 tahun bernama Johan Mardiono terombang-ambing selama tujuh hari tujuh malam di kapal perang Teluk Langsa, meninggalkan Jombang, Jawa Timur, menuju sesuatu yang asing bernama Morotai.
Ia tak membawa apa-apa selain ikatan hati dengan orang tuanya dan tekad untuk bertahan. Kurikulum kehidupan yang brutal putus sekolah, tidur di gardu kebun berjaga dari hama babi, panen melimpah yang membusuk karena tak ada pasar, hingga merantau ke Papua untuk menjadi sopir truk demi menyuntik modal kembali ke kebun Morotai.
Dari ‘universitas kehidupan’ yang keras itu Johan menempa gelar kepemimpinan yang tak terukur nilainya. Ia menguasai seni membangun kepercayaan (trust) dengan masyarakat lokal suku Galela, bukan melalui kuasa, tetapi melalui kerendahan hati.
Ia menjadi ahli menyelesaikan masalah kontekstual dari hama babi hingga urusan antarrumah tangga dan menempa mental baja yang ia sebut “bukan mental kerupuk”. Akhirnya, desa multietnis yang dihuni Galela, Jawa, Bugis, dan lainnya, memilihnya menjadi Ompala (Kepala Desa) sejak 2013. Ia bukan lagi sekadar nomor dalam data transmigrasi, melainkan pemimpin organik yang sepenuhnya diterima sebagai saudara.
Kemudian, Tim Ekspedisi Patriot UI mendapat mandat dari Kementerian Transmigrasi untuk melaksanakan strategi pendekatan yang Menteri Transmigrasi sebut sebagai Perang Kilat atau “Blitzkrieg” istilah yang merujuk pada strategi serangan cepat, terkoordinasi, dan penuh kejutan.
Filosofi ini kami adaptasi bukan untuk berperang, melainkan untuk melancarkan gerakan perubahan sosial (social engineering) yang fokus, masif, dan berdampak langsung dalam waktu singkat. Bekal kami sebagai akademisi adalah metodologi riset dan teori pembangunan, tetapi misi utamanya adalah mendengar dan berkolaborasi.
Dalam waktu terbatas itu, kami meluncurkan program “Goes to School” dengan inisiatif “Sekolah Siaga Bencana”. Saat mobil pemadam kebakaran Dinas Damkar Morotai masuk ke halaman sekolah, sorak-sorai siswa pecah.
Ini bukan sekadar simulasi; ini adalah pemenuhan kebutuhan dasar akan rasa aman sebagaimana teori hierarki kebutuhan Maslow. Kebutuhan yang sama mendesaknya dengan perjuangan harian Johan melawan “bencana” hama babi di kebun.
Pada momen lain, melalui “Gerakan Sekolah Masuk Museum”, kami mengajak anak-anak menyentuh langsung sejarah di antara peninggalan Perang Dunia II. Ini adalah upaya membangun jembatan identitas bagi generasi baru, termasuk anak-anak keturunan transmigran, agar mereka merasa sebagai bagian utuh dari narasi kolektif Morotai.
Titik balik sesungguhnya terjadi ketika data riset kami mengungkap paradoks: sementara lahan subur “tertidur”, Morotai justru bergantung pada pasokan beras dari luar. Di sini kami memilih untuk tidak berhenti pada laporan, melainkan mengambil jalur advokasi kebijakan. Dengan argumentasi bahwa Morotai adalah bagian dari solusi ketahanan pangan nasional, kami membawa suara ini hingga ke meja pembuat kebijakan.
Hasilnya nyata: Morotai ditetapkan sebagai Pusat Lumbung Pangan Nasional, dengan komitmen pembangunan gudang logistik Bulog. Pencapaian ini bukan sekadar kemenangan tim Patriot UI Morotai, tetapi sebuah kemenangan kebijakan yang menjawab jeritan puluhan tahun para petani dan kepala desa “Ke mana hasil bumi kami harus dijual?”
Kebijakan ini sejalan dengan Program Nasional Ketahanan Pangan dan Asta Cita, yang menekankan kemandirian ekonomi desa. Dari sini lahir analisis kritis kami: daya saing desa tidak bisa mengandalkan ketangguhan individu semata, atau hanya pada program intervensi dari luar. Ia memerlukan penyatuan tiga untai DNA yang saling melengkapi.
Pertama, DNA Ompala Code (Kearifan Lokal & Ketangguhan Kepala Desa). Ini adalah inti yang tak tergantikan. Johan dan puluhan Ompala lain di Morotai. adalah ahli problem solving yang lahir dari pengalaman langsung. Mereka arsitek perdamaian antaretnis dan penjaga kohesi sosial. Namun, pengalaman saja bisa membatasi mereka dalam local maxima solusi terbaik yang mungkin, namun belum optimal karena keterbatasan wawasan dan akses.
Kedua, DNA Patriot Code (Ilmu dan Manajemen Modern). Inilah yang kami coba bawa, kerangka berpikir sistematis, tata kelola pemerintahan desa yang akuntabel, model pengembangan Koperasi Desa Merah Putih, negosiasi kebijakan, hingga kemampuan untuk membuat desa memiliki daya saing. DNA ini berfungsi sebagai enzim yang dapat mempercepat dan mengarahkan potensi yang sudah ada.
Ketiga, DNA Network Code (Konektivitas dan Sistem). Ini adalah pembuluh darahnya. Koneksi ke jaringan pasar nasional (seperti BULOG), lembaga pembiayaan, dan pusat inovasi. Inilah yang mengubah desa dari entitas terpencil menjadi simpul dalam jaringan ekonomi yang lebih besar.
Pertanyaannya kini adalah, bagaimana menyatukan ketiga DNA ini secara berkelanjutan, agar tercipta sebuah siklus pembangunan yang mandiri? Jawabannya terletak pada investasi sumber daya manusia lokal. Jawabannya adalah Beasiswa Patriot bagi Kepala Desa dan Calon Pemimpin Desa dari daerah transmigran dan 3T.
Bukan beasiswa teoritis, melainkan program action learning yang menjadikan masalah nyata desa seperti pengembangan Koperasi Desa Merah Putih atau pengelolaan lahan produktif sebagai proyek utama. Mereka akan didampingi akademisi, praktisi, dan birokrat untuk merancang cetak biru yang langsung dapat diterapkan. Hasilnya bukan sekadar ijazah, tetapi rencana aksi kongkret yang selaras dengan Asta Cita dan agenda ketahanan pangan nasional.
Bayangkan beasiswa yang bukan sekadar kuliah teori. Mengingat Kepala Desa harus memiliki kepemimpinan & manajerial untuk merencanakan, mengelola anggaran dan sumber daya desa, mengorganisasi, mengarahkan, dan mengawasi program pembangunan. Ia juga harus memiliki ketrampilan komunikasi dan interpersonal agar mampu menyampaikan gagasan, memotivasi masyarakat, menjalin koordinasi dengan berbagai pihak (BPD, perangkat desa, pihak luar), serta membangun hubungan yang baik dan transparan. Last but not least, Kepala Desa juga harus memiliki integritas dan moralitas, dimana selain jujur, adil, cerdas, berwibawa, maka harus menjadi panutan bagi masyarakatnya
Sebuah program action learning di mana kasus nyata Sang Kepala Desa misalnya, bagaimana mengelola Koperasi Desa Merah Putih agar dapat menampung hasil kebun dan melakukan hilirisasi sederhana menjadi proyek utama. Mereka akan didampingi oleh akademisi, praktisi bisnis sosial, dan birokrat untuk merancang cetak biru yang langsung dapat diimplementasikan di desanya. Outputnya bukan sekadar ijazah, tetapi sebuah rencana aksi konkret yang sudah melalui uji kelayakan.
Dengan ini, visi Morotai 2030 bukan lamunan. Ia adalah peta jalan yang mungkin. Sebuah pulau di mana desa desanya, yang dipimpin oleh Ompala-Ompala yang tangguh dan terampil, menjadi klaster lumbung pangan dan ekonomi biru yang produktif. Pemudanya tak lagi melihat merantau sebagai satu-satunya jalan, karena kampung halaman menawarkan usaha bernilai tambah yang dikelola secara profesional. Situs sejarah bukan lagi peninggalan pasif, melainkan penggerak ekonomi kreatif. Intinya, kepemimpinan lokal akan menjadi perpaduan sempurna antara kearifan puluhan tahun dan kapasitas manajemen abad ke-21.
Sebagai bagian dari Tim Patriot UI, saya mengakui dengan rendah hati kami pulang membawa pelajaran yang jauh lebih berharga daripada yang kami berikan. Kami hanyalah katalis sementara. Para Ompala seperti Johan Mardiono katalis permanen, motor penggerak sejati di desanya. Tugas kita bersama adalah memperkuat motor tersebut dengan bahan bakar ilmu dan jaringan yang tepat.
Maka, mari kita ubah paradigma. Dari membangun desa, menjadi memberdayakan sang pembangun desa. Program beasiswa ini adalah langkah awal untuk menyulam benang-benang kearifan transmigran dan benang ilmu kampus menjadi sebuah kain yang kuat dan indah: DNA baru daya saing desa Indonesia. Dimulai dari Morotai, untuk semua Indonesia.
Penulis merupakan Ketua Tim Ekspedisi Patriot UI Morotai
Editor : Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2026