Lebih besarnya realisasi impor Maluku periode Januari - Juni 2010 dari kegiatan ekspor menyebabkan neraca perdagangan luar negeri daerah ini mengalami defisit sebesar 115,99 juta dolar AS. Kepala Badan Pusat Statistik Maluku, Bambang Kristianto, di Ambon, Sabtu, mengatakan, nilai ekspor komoditi non migas untuk posisi enam bulan pertama sebesar 60,91 juta dolar, sedangkan nilai impornya mencapai 147,36 juta dolar. "Akibatnya terjadi defisit terhadap neraca perdagangan Maluku sebesar 115,99 juta dolar dan jumlah ini lebih besar dari periode yang sama tahun 2009 yang hanya mencapai 12,24 juta dolar," kata Bambang. Kegiatan ekspor komoditi non migas Maluku seperti hasil perikanan dan perkebunan selama ini sangat dominan, sedangkan untuk kelompok migas berupa minyak bumi dari Kabupaten Seram Bagian Timur tidak terpantau secara baik. Di sisi lain, kegiatan impor bahan bakar mineral asal Singapura untuk periode enam bulan pertama ke Maluku sudah dilakukan sebanyak empat kali guna memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga nilai impornya relatif besar. Kondisi seperti ini, kata Bambang, mengindikasikan terjadinya kerugian dalam kegiatan ekspor impor daerah ini, karena pengeluaran yang harus dibayarkan ke negara lain lebih besar dibanding pendapatan yang diterima. "Defisit terbesar disumbangkan oleh transaksi impor dari Singapura yang mencapai 99,21 juta dolar, menyusul China sebesar 41,7 juta dolar," katanya. Maluku tidak mengimpor komoditi non migas apapun ke Singapura, tapi pembelian bahan bakar mineral dari negara itu sebesar 82,65 juta kilo gram senilai 99,21 juta dolar, sama halnya dengan pembelian komoditi migas dari Australia seberat 193.768 kg senilai 437.204 dolar. Walaupun Maluku mengimpor komoditi non migas ke China seberat 5,15 juta Kg bernilai 3,13 juta dolar, namun realisasi impor dari "Negeri Tirai Bambu" itu seberat 3,29 juta Kg senilai 44,84 juta dolar sehingga menimbulkan defisit sebesar mines 41,70 juta dolar AS.


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026