Jakarta (ANTARA) - Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian PPN/Bappenas mendorong transformasi Indonesia dari sekadar pengguna menjadi produsen teknologi kebencanaan guna memperkuat kemandirian nasional dalam menghadapi risiko bencana.

Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati dalam Seminar Nasional Implementasi Kemandirian Inovasi Teknologi dan Industrialisasi Kebencanaan di Jakarta, Kamis, menekankan pentingnya pergeseran pendekatan penanggulangan bencana dari responsif menjadi preventif yang berbasis risiko melalui penguatan sistem nasional.

“Integrasi data dan koordinasi lintas sektor masih menjadi tantangan yang perlu diperkuat guna memastikan respons yang lebih cepat dan efektif saat bencana terjadi,” kata dia.

Ia menjelaskan penguatan sistem peringatan dini dan peningkatan kapasitas masyarakat merupakan langkah strategis dalam membangun ketangguhan nasional di tengah kompleksitas risiko bencana saat ini.

 

Kegiatan seminar ini merupakan bagian dari rangkaian "Road to ADEXCO 2026" yang akan digelar pada September mendatang, yang diarahkan menjadi katalisator industrialisasi kebencanaan nasional sesuai dengan Rencana Induk Penanggulangan Bencana 2020-2044.

Dalam kesempatan itu Wakil Menteri (Wamen) Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard juga menegaskan bahwa isu kebencanaan harus menjadi bagian utama dalam perencanaan pembangunan nasional yang berkelanjutan.

“Pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan ketahanan terhadap risiko bencana,” kata dia.

Sementara itu Direktur Operasional ADEXCO Andrian W. Cader menyoroti pentingnya akselerasi industrialisasi teknologi kebencanaan di dalam negeri.

 

Kalangan pelaku industri teknologi kebencanaan menilai tantangan utama saat ini adalah lemahnya konektivitas antara inovasi akademisi dengan sektor industri.

“Masalah kita bukan kekurangan ide atau teknologi, tetapi inovasi tidak terhubung dengan industri dan tidak masuk ke rantai produksi. Kita harus naik kelas menjadi produsen, bahkan pemain utama,” kata Andrian.

Untuk mencapai target tersebut, ia menggarisbawahi perlunya penyelarasan kebijakan, percepatan hilirisasi riset, serta dukungan pembiayaan progresif melalui insentif pajak (super tax deduction) dan peran pemerintah sebagai pembeli utama (lead buyer).

Dia optimistis jika Indonesia mampu memproduksi sistem peringatan dini sendiri hingga mengekspor inovasi kebencanaan, hal tersebut tidak hanya menyelamatkan nyawa tetapi juga menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi negara.

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: RI dipacu jadi produsen teknologi kebencanaan, perkuat kemandirian



Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Uploader : Moh Ponting

COPYRIGHT © ANTARA 2026