Saat ini, banyak daerah yang berlomba-lomba membangkitkan dan mempromosikan potensi wisata mereka karena mulai sadar jika sektor ini salah satu peluang bisnis yang tak ada matinya.

Bahkan Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan, pariwisata akan menjadi lokomotif ekonomi nasional ke depan dan ujung tombaknya adalah para pelaku di daerah. Menpar mengingatkan pariwisata bisa menjadi salah satu yang bisa dijadikan prioritas pembangunan daerah selain infrastruktur, maritim, pangan dan energi.

Salah satu provinsi yang giat memacu pertumbuhan pariwsiata adalah Maluku dengan terus berkreasi menggelar agenda wisata untuk meningkatkan angka kunjungan wisatawan yang bermuara pada pertumbuhan ekonomi daerah.

Hal itu setidaknya terlihat dari penyelenggaraan kegiatan festival seni budaya dan pariwisata, yang pada tahun ini bermunculan di berbagai kabupaten dan kota di wilayah yang disebut "negeri raja-raja" atau "provinsi seribu pulau" ini.

Selama ini, kegiatan lomba atau festival seni budaya umumnya terpusat di kota Ambon. Sebut lomba kapal layar Darwin-Ambon Yacht Race (DAYR) yang diselenggarakan dalam rangka memperkokoh hubungan kota kembar (sister city) antara Kota Ambon, ibu kota provinsi Maluku dan Kota Darwin, Australia Utara.

Acara tahunan yang telah digelar sejak tahun 1970an ini merupakan kegiatan bahari berskala internasional, yang tidak hanya terbuka untuk para "skipper" dari Australia, tetapi juga Eropa, Amerika dan Asia.

Bulan lalu, panitia penyelenggara dari Ambon dan Darwin melakukan rapat evaluasi terkait hubungan kerja sama kota kembar dan kelanjutan kegiatan DAYR.

Menurut Kadis Pariwisata Kota Ambon Henry Sopacua, DAYR harus dibenahi secara bersama, di antaranya terkait sistem kerja sama yang saling menguntungkan, penyelengaraan kegiatan, promosi, dan peningkatan jumlah peserta.

Evaluasi menjadi penting, karena tahun ini tercatat hanya 16 peserta yang ikut, padahal Lomba yang awalnya diprakarsai klub yacht di Darwin, Cruising Yacht Association of the Northern Territory Incorporated (CYANT) ini pernah diikuti 100 peserta lebih pada 1998.

Sempat ditutup sejak konflik horisontal 1999, lomba ini kembali dihidupkan pada 2007. Karena itu, Pemkot Ambon maupun Darwin memang harus melakukan evaluasi dan pembenahan-pembenahan agar kegiatan tersebut kembali berjaya.

Selain DAYR, kegiatan yang terkait erat dengan pariwisata di Kota Ambon adalah Pesta Teluk, berupa lomba perahu tradisional yang juga bertujuan menarik kunjungan wisatawan.

Selain dua kegiatan di Kota Ambon tersebut, di Kabupaten Seram Bagian Barat ada Festival Budaya Tiga Batang Air yang diselenggarakan di Kota Piru, berisi pagelaran seni tari dan musik tradisional, juga lomba perahu belang dan perahu semang tradisional.


Tiga kegiatan baru

Tahun ini, ada tiga kabupaten yang juga menggelar kegiatan festival seni budaya, yakni Buru, Maluku Tenggara, dan Maluku Tenggara Barat.

Di Kabupaten Buru, pemerintah daerah setempat bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata menggelar Festival Pesona Bupolo, untuk lebih mengenalkan potensi seni budaya dan pariwisata di daerah bekas pembuangan tahanan politik tersebut, yang tidak semata sebagai penghasil emas dan minyak kayu putih, tetapi juga keindahan pantai dan pesona bawah laut serta kuliner dan kesenian tradisional.

Di Maluku Tenggara, pemerintah daerah setempat menggelar Festival Pesona Meti Kei yang juga menitikberatkan kegiatannya pada promosi pariwsata pantai, seni budaya, dan kuliner.

Festival ini diisi kegiatan diving dan snorkling, Festival Seni dan Budaya Kei, Tarik Tali Tangkap Ikan Tradisional, Festival Menu Enbal yang berhasil mencetak Rekor Muri, Tour Keliling Pulau, Pameran Potensi Wisata Kei, Serta Lomba Foto Pariwisata.

Sementara itu, di Kabupaten Maluku Tenggara Barat digelar Pesta Teluk Saumlaki, yang juga berisi kegiatan promosi seni budaya dan kuliner daerah serta potensi pariwisatanya.

Kegiatan yang dilaksanakan antara lain lomba dayung perahu kumal, lomba pancing tradisional dengan jumlah peserta 122 orang, lomba perahu hias yang diikuti 31 perahu, lomba voli pantai diikuti tim, lomba fotografi dan foto bawah laut yang diikuti 45 orang.

Selain itu, ada juga pemilihan tabweri dan batdare (pria dan wanita) Tanimbar 2016 yang diikuti 15 pasangan peserta, yang nantinya dikukuhkan sebagai duta wisata Tanimbar, juga parade laut sebagai bentuk dukungan dan rasa syukur masyarakat nelayan atas karunia alam laut yang sangat kaya yang diberikan Tuhan kepada masyarakat Tanimbar.


Belum maksimal

Bermunculannya kegiatan promosi potensi pariwisata dan seni budaya serta kuliner khas di berbagai daerah tersebut tentu bisa dilihat sebagai upaya membangkitkan perekonomian Maluku dari sektor pariwisata.

Fakta yang ada menunjukkan, Maluku sebagai daerah berkarakter kepulauan memiliki pesona wisata yang belum tergarap maksimal, terbukti dari sedikitnya jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke provinsi ini.

Data Asosiasi Tour and Travel Indonesia (Asita) Maluku menyebutkan, jumlah turis mancanegara yang berkunjung ke Maluku sejak Januari hingga awal Desember 2016 hanya 18.000an orang.

Data tersebut diperoleh dari imigrasi yang melakukan pemeriksaan terhadap warga negara asing yang tiba di Bandara Internasional Pattimura Ambon.

Para turis itu umumnya datang untuk menikmati objek wisata bahari dan bersejarah yang terdapat di Kota Ambon, Pulau Banda, Pulau Seram, dan kawasan Maluku Tenggara Raya.

Selain situs-situs wisata, Maluku juga memiliki kekayaan seni budaya berupa tarian daerah semacam tari lenso, tari cakalele, permainan unik seperti bambu gila dan dansa tali, juga ritual-ritual adat seperti Pukul Sapu di Mamala dan Morela, juga ikatan kekeluargaan atau kekerabatan Pela dan Gandong.

Masih sedikitnya jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke provinsi ini antara lain disebabkan kurangnya kerja sama antara pemerintah daerah cq dinas pariwisata dan instansi lain yang usahanya bersinggungan dengan wisatawan, termasuk Asita.

Sekretaris Dewan Penasihat Daerah Asita Maluku Tony Tomasoa menyatakan pihaknya selama ini tidak belum dilirik Dinas Pariwisata Maluku sebagai mitra untuk melakukan promosi.

Menurut dia, turis asing datang secara individu ke Maluku karena tertarik setelah membaca buku, tidak melalui biro perjalanan maupun promosi pemerintah daerah. Mereka umumnya dari Belanda, Polandia, Ceko, Prancis, dan Jerman.

Berbicara tentang kendala yang dihadapi turis, Tony menyatakan umumnya wisatawan mancanegara tinggal di Maluku selama 1-2 minggu, karena kegiatan mereka sering terhambat masalah infrastruktur seperti transportasi laut dengan jadwal kapal yang tidak tetap, sementara angkutan tersebut sangat dominan di Maluku yang geografisnya daerah kepulauan.

Masalah lain adalah mahalnya tarif kendaraan rental (sewaan) sehingga turis tidak bertahan lama.

Asita Maluku tentu berharap Pemerintah Provinsi Maluku memberikan perhatian cukup pada masalah-masalah tersebut.

Dalam acara "Bacarita Orang Maluku" (siaran tunda yang akan ditayangkan tanggal 26 Desember 2016), pemerintah provinsi yang diwakili Ketua Bappeda Anton Sihaloho menyatakan tiga program yang akan menjadi prioritas pada tahun 2017 adalah Pendidikan, Kesehatan, dan Pariwisata.

Menurut dia, pemerintah provinsi akan mencoba mengevaluasi dan menata kembali upaya promosi untuk memajukan pariwisata Maluku agar dapat memberikan kontribusi besar bagi PAD. 

Semoga sinergi pemerintah dengan semua pelaku industri wisata mampu membenahi kekurangan yang masih ada sehingga wisatawan mancanegara mendapat kepuasan sejak pertama kali datang dan akhirnya kembali datang. Bahkan mungkin menceritakan pengalaman mengesankan menjelajahi Maluku di media sosial sehingga menjadi promosi gratis bagi pariwisata Maluku.


Pewarta: John Nikita Sahusilawane
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026