Maestro keroncong Gesang Martohartono (92) sebelum meninggal dunia pada Jumat sore, berpesan kepada masyarakat untuk melestarikan keroncong sebagai bagian dari seni dan budaya Indonesia. "Pesan terakhir, beliau menyuruh melestarikan keroncong," kata Yani Effendi, anak keponakan Gesang, di Solo, Jumat malam. Gesang meninggal dunia pada Jumat sekitar pukul 18.10 WIB di Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Solo, setelah mendapat perawatan sejak Minggu (16/5) karena sakit. Jenasahnya akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Pracimalaya, Makam Haji Surakarta, Sabtu (21/5). Selain sanak keluarga Gesang, hadir juga Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Pemerintah Kota Surakarta, Subagyo. Wakil Direktur RSU PKU Muhammadiyah Prof Dr Suradi mengatakan, Gesang memang memiliki masalah kesehatan utama di usia lanjut yang selalu memperoleh pengawasan dokter secara rutin. "Masalah kesehatan yang diderita Gesang di antaranya gangguan kelenjar prostat, lemah jantung, infeksi saluran kemih, dan infeksi pernafasan," katanya. Di Yogyakarta, seniman Wardoyo menyatakan Gesang akan tetap dikenang melalui lagu-lagu karyanya yang terkenal di beberapa negara di dunia. "Lagu-lagu karya Gesang khususnya lagu Bengawan Solo terkenal tidak hanya terkenal di Indonesia tetapi juga di Jepang, China, Belanda, dan Suriname," katanya. Menurut Wardoyo, lagu-lagu karya Gesang tidak hanya telah melambungkan namanya, tetapi juga membuat Indonesia terkenal di luar negeri. "Selama orang masih mendengar dan menyanyikan lagu-lagu karyanya, seperti Bengawan Solo, Jembatan Merah, Sapu Tangan, Caping Gunung, dan Pamitan, nama Gesang akan tetap dalam ingatan," kata Wardoyo, yang juga pemain karawitan. Hari ini di Solo, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Menko Kesra Agung Laksono menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum Gesang Marto Hartono. "Presiden juga mendoakan almarhum Gesang bisa diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa," kata Agung Laksono saat melayat Gesang di rumah duka Kemlayan Solo, Jawa Tengah, Jumat. Meninggalnya Gesang dikatakan sebagai satu kehilangan besar, karena sang maestro merupakan tokoh besar di bidang kebudayaan. Semasa hidup, Gesang pernah mendapat tanda penghargaan tertinggi budaya, "Bintang Parama Dharma", yang diberikan pada 12 Agustus 1992 semasa Pemerintahan Presiden Soeharto.


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026