"Pertumbuhan ekonomi Malut cukup bagus, nasional hanya sekitar 5,02 persen, sedangkan Malut sebesar 5,77 persen," kata Kepala Kantor Perwakilan BI Malut Dwi Tugas Waluyanto, Kamis.
Bahkan, kalau di angka 5,77 itu juga tidak terlalu berpengaruh, sebab daerah-daerah lain yang masih di bawah Malut.
Namun harus disukuri pertumbuhan ekonomi Malut masih cukup tinggi dan pertumbuhannya tidak didorong oleh sektor pertambangan, karena untuk sektor yang menjadi pertumbuhan ekonominya kebanyakan dari sektor pertanian, perkebunan, perikanan.
Oleh karena itu, jika dibandingkan dengan daerah lain, pertumbuhan ekonomi mereka rata-rata didorong oleh sektor pertambangan yang suatu saat akan habis, misalnya di Papua, perekonomiannya yang didorong sektor pertambangan persen per tahun dan dilihat di triwulan terakhir, hingga mencapai 21 persen.
Hal itu karena produksi Freeport, jika freeportnya bermasalah, takutnya akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Papua, tambahnya.
Namun, untuk Malut jauh berbeda, karena didorong oleh perkebunan, pertanian dan lainnya yang membuat ekonomi Malut lebih solid, apalagi sektor perkebunan dan pertanian itu merupakan sesuatu yang akan berkelanjutan, dibandingkan dengan pertambangan.
Menurut Dwi, Malut seharusnya lebih meningkatkan industri Manufaktur, namun untuk mendorongnya harus memburuhkan listrik yang cukup besar, tetapi industri manufaktur yang dimaksud itu bukan sesuatu yang canggih, karena industri manufaktur itu bisa juga dilakukan di rumah atau dipedesaan.
"Sebagai contoh, misalkan industri diperkebunan kelapa yang kemudian diolah menjadi minyak goring, selain hasilnya minyak kelapa, ampasnya juga bisa digunakan menjadi pupuk, serabutnya dijadikan bahan kerajinan dan batoknya diolah menjadi arang untuk bahan bakar," katanya.
Sementara itu, kelapa yang selama ini dijual dalam bentuk kopra, yang mendapatkan nilai tambah selama ini adalah daerah luar Malut seperti Manado, Makassar dan Surabaya, sehingga produksi pengolahan minya ini berhasil, maka akan ditularkan ke daerah-daerah lain yang ada di Malut, dengan begitu pertumbuhan ekonomi Malut akan meningkat cukup tinggi.
Jika sektor pendukung perekonomian terus mengalami peningkatan, maka di 2017 optimisme pertumbuhan ekonomi Malut akan mengalami tren postif. Selain itu, pertumbuhan UMKM yang cukup baik di Malut, menjadi nilai tambah dalam mendorong perekonomian.
"Di tambah dengan sektor parawisata yang belakangan ini mulai dilirik oleh wisatawan, wisatawan baik dalam mapun luar negeri," katanya.
Pewarta: Abdul Fatah: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.