Survey Paralayang tentang SDA dan Potensi Wisata Pulau Moa

Survey Paralayang tentang SDA dan Potensi Wisata Pulau Moa

Survey Paralayang tentang sumber daya alam dan potensi wisata Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya (Pendam 16)

Ambon, 1/11 (Antara Maluku) - Pulau Moa adalah salah satu pulau di Kabupaten Maluku Barat Daya yang merupakan daerah Sabana, dimana banyak terdapat padang rumput yang diselingi beberapa pohon.

Pulau Moa terdiri dari 7 Desa, di antaranya Desa Moain, Tonwawan, Werwaru, Klis, Paty, Wakarlely dan Kaiwatu. Banyak
potensi yang terdapat di Pulau Moa, namun belum maksimal digunakan sehingga butuh pengelola untuk bisa mengembangkan desa melalui badan Usaha Milik Desa (Bumdes) agar pengembangan potensi wisata dan sumberdaya alam bisa menjadi gerakan untuk masyarakat.

Potensi wisata dan sumberdaya alam yang menarik dari Pulau Moa adalah Gunung Kerbau, yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Moa yang tingginya sekitar 1000 meter dari Permukaan Laut dan juga melambangkan kekayaan peternakan kerbau sebagai ciri khas Pulau Moa.

Berdasarkan Survey yang dilakukan oleh Pak Teguh Maryanto, potensi tersembunyi di selatan Indonesia, yakni Gunung Kerbau di Pulau Moa adalah sebuah permukaan dengan Elevasi yang sangat ideal untuk sebuah penerbangan Paralayang, ditinjau dari Countur, Cuaca, dan Vegetasi.

Harapan dan Visi ke depan, adanya akses jalan menuju tempat take off sehingga memudahkan pilot dan pengunjung mencapai lokasinya.

Di Gunung Kerbau, pilot dapat melakukan penerbangan dari empat arah mata angin yang berbeda, dengan landing zone (zona pendaratan) di semua arah yang aman dan tidak ada obstacle (penghalang) yang membahayakan.

Tempat take off ada di sepanjang punggung bukit dan tidak perlu melakukan pembenahan yang berarti.

Gunung Kerbau sangat aman dan menjanjikan sebagai tempat wisata dirgantara dan berpeluang untuk menjadi tempat kompetisi internasional paralayang.

Selain itu, di Gunung Kerbau juga bisa digunakan untuk beberapa kegiatan yang dapat menarik Wisatwan, di antaranya Gang Tole, di sekitar Landing bisa di buat landasan Para Trike maupun Para motor. Downhill Mountain bike, dan Wisata Laut dive.

Langkah awal Pengembangan Paralayang Moa harus direalisasikan melalui peningkatan sumberdaya manusia yang dapat ditempuh melalui sekolah atau persiapan anak daerah untuk mejadi penerbang/pilot. Bila ini dilakukan dari sekarang, maka 3-4 tahun ke depan akan menghasilkan pilot Paralayang yang kemudian menjadi asset desa dan daerah untuk atlet maupun Pariwasata yang
memberikan pendapatan bagi pilot maupun desa dan daerah.

Tahun depan, direncanakan sudah bisa dilakukan Event Paralayang bertaraf international sebagai magnet untuk menarik wisatawan dan memperkenalkan Pulau Moa, kata Teguh.

Teguh, yang saat itu didampingi Elsye Syauta Latuheru, melihat berbagai potensi yang bisa menjadi peluang untuk mengembangkan desa mandiri melalui pengembangan Bumdes.

Dari diskusi dengan masyarakat dan kepala desa di beberapa desa yang berdekatan dengan landing area, diperoleh informasi,
untuk membangun desa mandiri perlu kerja sama dengan Babinsa sebagai motor pengerak guna mendukung program Emas Biru dan Emas Hijau yang telah dibangun oleh Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo yang dapat diimplementasi melalui penyiapan SDM bagi masyarakat dan pejabat Desa untuk  mendukungnya dalam mengembangakan Paralayang.

“Kami berterimaksih kepada Bapak Pangdam yang telah memfasilitasi kami selama melakukan survey yang didampingi oleh Babinsa Moa Serda Andre Batmomolin pada hari sabtu 28 Oktober lalu,” kata Teguh. (Pendam 16)