Mantan pejuang Trikora Irian Barat (saat ini Provinsi Papua, red) Siti Rokayah mendesak Pemerintah Republik Indonesia bersikap tegas dalam menghadapi perlakuan Malaysia di wilayah perbatasan, baik di darat maupun di laut. Tindakan tegas tersebut misalnya dengan menengggelamkan kapal asing yang kedapatan melakukan provokasi dan pelanggaran, kata Rokayah saat ditemui di kediamannya Tauboria-Abepura, Jayapura, Provinsi Papua, Kamis. "Jika sering diperlakukan demikian oleh pihak mereka (nelayan Malaysia, red) tembak saja, apalagi ini telah berulang-ulang kali," katanya. Pejuang wanita Trikora yang masuk dalam Batalyon Srikandi Brawijaya Kompi C pada 1962 ini berharap agar Pemerintah RI menunjukkan sikap yang serius dalam menghadapi segala tantangan dan rongrongan yang dilakukan oleh negara serumpun Malaysia. "Sikap serius itu dengan menunjukkan ketegasan kita, sehingga mereka tidak akan anggap kita enteng," katanya. Menurut dia, apa yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu bangsa untuk mendapatkan kemerdekaan harus dijaga hingga titik darah penghabisan. "Para pejuang kita telah mengorbankan seluruh harta benda serta jiwa-raga, oleh karena itu sejengkal bagian di Tanah Air tidak boleh lepas sedikitpun," tandasnya. Sementara itu, Tarmidja, salah satu pendiri Universitas Cenderawasih (Uncen) yang juga pejuang 1945, menilai apa yang dilakukan Malaysia kepada Indonesia sangat tidak bertanggungjawab dan tidak menunjukkan sikap sebagai negara serumpun. "Hal ini tidak sepantasnya dilakukan oleh Malaysia sebagai negara serumpun," katanya. Profesor yang mempunyai latar belakang mengajar sejarah di Uncen dan beberapa kampus swasta di Jayapura itu juga meminta kepada pemerintah untuk bersikap hati-hati dalam mengambil sikap menyelesaikan masalah tersebut. "Jangan tergesa-gesa dengan mengambil sikap yang arogan tapi harus dilihat secara lebih luas," katanya. Oleh karena itu, menurut dia, banyak cara untuk menyelesaikan masalah tanpa harus mengorbankan rakyat banyak. "Misalnya dengan diplomasi atau menarik perwakilan negara kita di Malaysia sebagi bentuk protes," katanya. Menurut Tarmidja, pemerintah juga harus memperhatikan sistem pertahanan negara yang ada selama ini karena itu juga bisa menjadi bagian dari cara musuh untuk mencoba kekuatan TNI. "Bisa saja ini bagian dari taktik mereka untuk mengetahui pertahanan kita," katanya. Ia mengatakan, sebaiknya pemerintah melakukan penyegaran sekaligus peningkatan infrastruktur keamanan, terutama logistik alutsista (alat utama sistem senjata) di wilayah-wilayah perbatasan. Dengan begitu, kata dia, insiden penangkapan tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan RI beberapa waktu lalu tidak terulang kembali. "Dan itu menjadi bukti bahwa petugas yang mengawal wilayah perbatasan perlu dipersenjatai," katanya. "Senjata kita harus dilengkapi, terutama para penjaga perbatasan," tambahnya. Ia berharap, dengan adanya peristiwa seperti itu seluruh warga negara terutama para pemuda harus mempunyai rasa cinta Tanah Air yang tinggi untuk siap bela negara. "Rasa cinta Tanah Air dapat ditunjukkan dengan pengabdian dan pengorbanan untuk negara dalam bentuk apapun," kata profesor yang pernah satu setengah tahun menimba ilmu di negeri Belanda.


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026