Sedikitnya 20 kecamatan di sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Maluku dijadikan sampel penghitungan nilai tukar petani oleh Badan Pusat Statistik Maluku. Kabid Statistik Distribusi BPS Maluku J. Sahertian di Ambon, Selasa, mengatakan, 20 kecamatan ini merupakan daerah yang memiliki  sentra pengembangan tanaman pangan, perikanan, peternakan, hortikultura dan tanaman perkebunan rakyat. "Untuk September 2010, NPT Maluku tercatat 103,99 atau naik  0,28 persen dari Agustus sebesar 103,70 persen," katanya. Sementara masing-masing sub sektor seperti tanaman pangan naik 0,89 persen,  hortikultura turun 0,32 persen, tanaman perkebunan rakyat turun 0,32 persen, peternakan turun 0,09 persen, sedangkan sub sektor perikanan naik 0,83 persen. Kondisi ini diakibatkan selama September terjadi inflasi di daerah pedesaan di Maluku sebesar 0,38 persen akibat berfluktuasinya tiap-tiap kelompok pengeluaran rumah tangga. Menurut Sahertian, nilai tukar petani yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima terhadap indeks harga yang dibayar petani untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di desa. "Bagaimana seorang petani dibilang sejahtera, bila dia menjual durian dengan harga mahal dan hanya sedikit yang laku sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya seperti membeli makanan, pakaian atau kebutuhan dasar lain," katanya. Atau seorang petani sayuran yang menjual hasil panennya dengan harga relatif murah, lalu dia harus membeli bibit, pupuk dan keperluan rumah tangga yang biayanya lebih besar dari hasil penjualan produk.


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026