Setelah beberapa hari hujan, siang itu matahari bersinar angkuh di atas langit Kota Wasior. Panas membara bertambah sempurna dengan beterbangannya debu-debu sisa lumpur basah yang menghempas kasar ke setiap wajah manusia di kota itu. Sisa-sisa penduduk yang masih menghuni Wasior pun menyingkir dari terpaan terik mentari, bersembunyi dalam rengkuhan bayangan pepohonan dan dinginnya tembok rumah. Tapi Irwanto masih berdiri di sebuah lahan besar tidak jauh dari Bandara Perintis Wasior. Lelaki berusia 30 tahun ini mematung di situ, tepat di bawah pijaran si raja siang dan tidak memedulikan cahaya terik yang bisa membakar ubun-ubun kepala. Dengan bercelana pendek, bersendal jepit, berkaus lusuh dan dengan lingkaran hitam di bawah mata tanda tidak tidur semalaman, lelaki yang akrab dipanggil Anto itu menatap sendu kantung mayat bewarna kuning di hadapannya. Beberapa orang berseliweran di dekat kantung mayat yang masih terbungkus rapi itu. Anto tidak mengenali mereka, hanya dari seragamnya Anto tahu mereka adalah relawan yang baru saja menemukan jenazah di bawah puing-puing bangunan di jantung Kota Wasior. Beberapa relawan membuka kantung mayat itu dan minta Anto mengenali jenazah perempuan di dalamnya. Anto lalu merunduk untuk melihat arah raga tidak bernyawa yang sudah membusuk dan menghitam, sulit pula dikenali  karena terlalu lama terkubur di dalam lumpur. Sungguhpun demikian, dari corak kain celana di tubuh kaku itu Anto mengenalinya sebagai Irawati (25), isterinya yang menghilang setelah banjir bandang menghantam kota mereka pada Senin, 4 Oktober lalu. Cincin yang melingkar di jari manis dan kalung emas di leher jenazah perempuan itu memperkuat keyakinan Anto bahwa itu adalah jenazah isterinya. Ia lalu terisak sendu. Bulir-bulir air matanya mengembang, hatinya pilu. Sejenak kemudian, relawan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Bulan Sabit Merah Indonesia mulai menggali tanah untuk memakamkan jenazah Irawati, tepat di samping sebuah kuburan kecil dengan nisan darurat bertuliskan nama Luthfi berusia 19 bulan, anak semata wayang Irwanto. Pemakaman sederhana itu pun mengakhiri segala penantian Anto. Isteri dan anaknya sudah ditemukan, kendati tak lagi mampu menyapanya. Laki-laki ini pun harus memulai hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya berada di Padang, Sumatera Barat, kampung halamannya. "Cengkrama terakhir" Anto  adalah salah seorang warga Wasior yang selamat dari gulungan banjir bandang dan lumpur. Ia ditemukan terdampar di kawasan pelabuhan yang berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya, tanpa kuasa menyelamatkan anak semata wayangnya yang juga hanyut. Pada hari naas itu, dia tengah bercengkrama dengan sang bayi di peraduan. Di luar hujan deras terus mengguyur dan air mulai menggenangi pelataran rumah. Irawati, isterinya, sedang pergi membeli sarapan. Anto tersentak dan segera bangkit sambil menggendong bayinya, ketika terdengar jeritan warga sekitar rumahnya bercampur bunyi-bunyian yang menggema akibat pergesekan batu-batu besar dan batang-batang pohon kayu yang menabrak rumah-rumah penduduk. Baru saja hendak keluar, tembok tiba-tiba rubuh dan Anto bersama bayinya terhempas lalu hanyut diterpa gulungan lumpur dan air berikut material rumah mereka. Kini, Anto hanya bisa menyesali ketidakmampuannya menyelamatkan isteri dan anaknya. Apalagi ia belum sempat meminta maaf kepada sang isteri yang ia marahi pada malam sebelum bencana tiba. Anto mengaku marah lantaran Irawati membeli dompet seharga Rp150 ribu, padahal beberapa hari sebelumnya sang isteri sudah membeli dompet. "Isteri saya minta maaf dan berjanji tidak akan membeli dompet lagi. Ini dompet terakhir," kata Anto menirukan ucapan isterinya sambil terisak. Laki-laki ini tidak pernah bermimpi bahwa ucapan isterinya itu bakal menjadi kenyataan dalam arti jauh lebih memilukan hatinya. "Sekarang saya merasa sangat menyesal. Jika saja isteri saya bisa hidup kembali, saya akan membelikannya dompet sebanyak-banyaknya, berapa pun harganya," katanya. Anto dan dompet terakhir isterinya merupakan satu dari sekian banyak cerita duka dari salah satu sudut tanah Papua, sebuah negeri di ufuk timur Indonesia. Anto memang tidak sendiri. Banjir bandang yang menerjang Kota Wasior menewaskan sedikitnya 156 orang sementara sekitar 155 lainnya hilang dan belum ditemukan. Sekitar 5.000 orang lainnya meninggalkan Wasior untuk mengungsi ke wilayah tetangga seperti Manokwari dan Nabire. Wasior pun menjadi kota mati. Ribuan rumah rusak berat bahkan ada yang rata dengan tanah. Kalau pun ada beberapa yang masih berdiri, tidak tampak satu pun penghuni di dalamnya. Endapan Lumpur, bongkahan-bongkahan batu besar dan batang-batang pohon raksasa adalah wajah kota itu sekarang. (Wuryanti Puspitasar/J007)


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026