Neraca perdagangan Maluku pada  kuartal pertama tahun 2010 menunjukkan defisit 34,64 juta dolar AS akibat impor lebih besar dibandingkan ekspor "Defisitnya neraca perdagangan luar negeri ini akibat adanya selisih nilai ekspor Maluku periode yang sama sebesar 19,89 juta dolar AS jika dibandingkan dengan nilai impor yang mencapai 54,53 juta dolar AS," kata Kepala Badan Pusat Statistik Maluku J.B Kristianto di Ambon, Jumat. Ia mengungkapkan, realisasi nilai ekspor Maluku sampai saat ini masih didominasi komoditi nonmigas seperti ikan dan udang, dengan negara tujuan terbesar Thailand , Jepang, Amerika Serikat, Taiwan, Hong Kong dan Kores Selatan. Untuk periode Januari - April 2010, realisasi ekspor komoditi nonmigas ke negara "gajah putih" Thailand senilai 9,53 juta dolar AS, menyusul ekspor ke Jepang senilai 3,87 juta dolar , Amerika 3,83 juta dolar, China 1,44 juta dolar. Sedangkan negara tujuan ekspor lainnya seperti Taiwan, Hong Kong dan Korea Selatan senilai 1,22 juta dolar . Sementara itu, realisasi impor Maluku terbesar berupa bahan bakar dari Singapura periode Pebruari - Maret 2010 senilai 31,50 juta dolar yang mengakibatkan defisitnya neraca perdagangan Maluku . Dua pelabuhan utama yang menjadi sentra kegiatan ekspor Maluku adalah Pelabuhan Yos Soedarso Ambon (12,48 juta dolar atau sekitar 62,74 persen), sisanya sumbangan dari pelabuhan Kota Tual. Kristianto mengatakan, tidak semua komoditi ekspor yang merupakan produk asli daerah Maluku berasal dari dua pelabuhan tersebut, karena ada juga komoditi yang dijual pedagang antarpulau (interinsuler) ke Surabaya dan Jakarta, sehingga baru kemudian baru diekspor. "Misalnya komoditi karet, pala, mutiara, tembaga termasuk ikan dan udang asal Maluku yang diekspor dari Bandara Internasonal Soekarno-Hatta , Tangerang Banten dan Pelabuhan Tanjung Perak di Jawa Timur," katanya menjelaskan.


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026