Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah tertarik mengembangkan program "water front city" seperti yang dikembangkan Pemerintah Kota Ambon untuk mengoptimalkan pengelolaan wilayah pesisir.
"Kami tertarik untuk mengadopsi konsep pengembangan WFC yang diterapkan Pemkot Ambon guna mengoptimalkan pemanfaatan potensi wilayah pesisir pantai Pekalongan," kata Wali Kota Pekalongan Mohamad Basyir Ahmad seusai melakukan pertemuan dengan Wali Kota Ambon Jopi Papilaja , Senin.
Dia mengakui, wilayah pesisir pantai Pekalongan sering dilanda air pasang sehingga dikhawatirkan tergerus air laut. Karena itu dibutuhkan konsep pengembangan yang sesuai.
Wali Kota Pekalongan mengakui berkunjung ke Ambon bersama sejumlah pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) setelah memperoleh informasi tentang pengembangan wilayah pesisir di Kota Ambon dengan menerapkan konsep WFC dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Dia mengakui, saat ini sebagian wilayah pesisir pantai Pekalongan yang tenggelam karena naiknya air laut sehingga dirasakan perlu segera diatasi.
"Karena itu kami ke Ambon untuk belajar tentang konsep WFC yang dipadukan dengan kearifan lokal masyarakat setempat, dan kemudian akan diterapkan di Pekalongan, apalagi konsep ini telah diadopsi oleh KKP dan disosialisasikan ke berbagai daerah yang memiliki panjang pesisir pantainya," katanya.
Wali Kota Ambon Jopi Papilaja mengatakan, konsep pengembangan WFC telah digagas sejak 2007. "Pengembangan konsep ini disesuaikan dengan daya dukung lahan di Ambon yang semakin terbatas akibat dinamika pertumbuhan penduduk yang terus bertambah," katanya.
Konsep WFC yang dilaksanakan di wilayah pesisir Kota Ambon yang terbagi atas 12 zona pengembangan dan dikelola sedemikian rupa agar sehingga ada penambahan area baru seluas 650 hektare.
Area baru ini akan dimanfaatkan untuk membangun berbagai fasilitas baru sesuai rencana pembangunan dan pengembangan kota Ambon di masa mendatang.
Papilaja menambahkan, konsep WFC telah dipresentasikan dan diambil alih oleh KKP sebagai proyek percontohan implementasi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil sesuai dengan amanat Undang-Undang No.27 Tahun 2008 tentang pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil.
Papilaja menandaskan, pengembangan konsep Minapolitan oleh KKP juga merupakan bagian dari implementasi program WFC dan diharapkan menjadi program unggulan pengembangan sektor perikanan.
Dia mengatakan program kawasan minapolitan merupakan salah satu sistem baru yang diimplementasikan tapi tidak mengubah program pengembangan perikanan dan kelautan yang telah dilakukan sebelumnya dan hanya merupakan sebuah konsep rekayasa ulang pola pengembangan potensi perikanan di Indonesia.
"WFC dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah pengelolaan kawasan perairan Teluk Ambon untuk berbagai peluang investasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ini program terobosan Pemkot Ambon untuk menjadikan kawasan perairan teluk Ambon sebagai pusat investasi maupun sumber kehidupan masyarakat di masa mendatang," katanya.
"Empat kawasan"
Papilaja mengatakan, konsep WFC mendasari penataan Teluk Ambon menjadi empat wilayah pengembangan yakni ekowisata hutan bakau, wisata Air Salobar, kawasan Pantai Mardika dan kawasan Hatiwe Kecil.
Kawasan hutan Bakau di desa Passo, Kecamatan Baguala, akan dikembangkan menjadi kawasan ekowisata dan di areal ini akan dibangun sarana jelajah hutan bakau dan kafe bagi para wisatawan dengan nilai investasi sebesar Rp5,1 miliar.
Kawasan wisata Air Salobar yang saat menjadi tempat piknik alternatif bagi warga kota Ambon akan ditata menjadi lokasi wisata modern dengan kawasan pedestrian, kios dan wisata kuliner dengan nilai investasi mencapai Rp10,2 miliar.
"Kawasan ini akan dibangun tanpa mengurangi lebar jalan raya yang ada sekarang dan tidak juga dengan reklamasi pantai, tetapi menggunakan sistem terapung," katanya.
Kawasan Pantai Mardika juga akan ditata dengan jalur hijau, pedestrian, ruang publik dan restoran atau cafe terapung dengan investasi Rp5,1 miliar, sedangkan kawasan Hatiwe Kecil akan ditata dengan konsep yang sama, tetapi dipaketkan dengan pembangunan Pasar "Ole-Ole". Total nilai investasinya direncanakan mencapai Rp53,2 miliar.
"Jadi, kalau mau beli oleh-oleh khas Ambon tinggal datang ke pasar Ole-Ole," katanya.
Ia juga mengatakan, rencananya akan dibuat pula dibuat pelabuhan bagi kapal-kapal ikan milik nelayan yang memasok ikan ke Pasar Ikan Higienis yang telah ada di kawasan Tantui.
Pengembangan seluruh kawasan ini akan dilakukan dengan sistem floating area dengan total nilai investasi mencapai Rp70 miliar.
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.