PT Bank Negara Indonesia (Persero) atau BNI yang baru saja menyentuh usia 75 tahun berkomitmen untuk terus beradaptasi dan bertransformasi untuk melayani nasabah dan menjadi bank internasional.

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar di Jakarta, Senin, mengungkapkan proses adaptasi tersebut sejalan dengan kondisi saat ini serta menjadi tetap muda dan dinamis.

"Pada usia 75 tahun kami bertransformasi. Kami semakin dewasa, tetapi juga harus adaptif, memperkuat kolaborasi. Transformasi ini bukan berarti kami ikut-ikutan. Sebab, ini tidak hanya sekarang, namun kami juga melihat sampai ke depan, lima tahun ke depan, misalnya," katanya.

Ia juga memastikan, untuk mewujudkan transformasi tersebut, maka perseroan harus mempunyai kemampuan digital yang memadai serta daya saing yang kuat di tingkat global.

"Makanya, ada RACE (risk, agile, collaborative, dan excecution). Itu tema kami dalam melakukan transformasi. Kemampuan digital dan punya daya saing global, itu jadi top priority di BNI," ujar Royke.

Berdasarkan sejarah, BNI dilahirkan dengan cita-cita menjadi kekuatan moneter di dunia internasional. Kini, dengan enam kantor cabang di luar negeri, BNI mendapatkan amanah dari Kementerian BUMN agar menjadi bank yang fokus pada pelayanan dan jaringan internasional.

Saat ini, BNI mempunyai jaringan kantor cabang luar negeri (KCLN) di enam pusat keuangan dunia, yaitu Singapura, Hong Kong, Tokyo (Jepang), New York (Amerika Serikat), Seoul (Korea Selatan), dan London (Inggris).

Baca juga: Youtuber Rosidah sambangi kantor BNI Hong Kong, langsung buka rekening

Dengan bank yang mempunyai cabang luar negeri terbanyak diantara bank-bank asal Indonesia lainnya, BNI fokus menjalankan bisnis perbankan internasional seperti trade finance, jasa remittance, international desk, dan financial institution.

Keinginan BNI untuk menggarap pasar internasional disokong komitmen tinggi. Buktinya, optimalisasi jaringan dan platform internasional menjadi salah satu strategi utama dalam mewujudkan visi institusi keuangan terbaik di bidang pelayanan dan kinerja berkelanjutan.

Direktur Treasury dan International BNI Henry Panjaitan menuturkan 90 persen aset kredit di kantor cabang luar negeri merupakan bisnis Indonesia-related, baik perusahaan Indonesia yang go international maupun supplier dan buyer dari perusahaan top tier di Indonesia.

Menurut Henry, terdapat tiga strategic value yang dimiliki BNI untuk memacu bisnis internasional, yakni sebagai source of international funding, go global assistance, dan gate to investment.

Demi mengoptimalkan nilai strategis tersebut, BNI terus melakukan sejumlah pengembangan, antara lain pembentukan syndication desk dan pendirian anak perusahaan BNI Sekuritas di Singapura serta pembentukan Foreign Direct Investment (FDI) Advisory Unit.

"BNI juga telah memperkuat desk internasional dengan pembentukan Korea dan China Desk," kata Henry.

Baca juga: BNI perluas Agen46 dengan gandeng GP Ansor serta Pos Indonesia

Selain itu, peran Japan Desk yang sudah ada sejak 2012 akan dioptimalkan untuk mendukung cabang Tokyo yang ditunjuk sebagai salah satu appointed cross currency dealer (ACCD) bank dalam local currency settlement (LCS) antara Indonesia dan Jepang.

BNI, lanjut dia, ikut bersinergi dengan perusahaan pelat merah lain dalam menfasilitasi BUMN menjadi pemain global dengan rencana mendirikan kantor Indonesia Incorporated di Hong Kong.

Kekuatan internasional BNI ini diharapkan juga berdampak pada pemberdayaan sektor UMKM. Untuk itu, perseroan siap membuka tujuh hub di seluruh Indonesia untuk mengakomodasi UMKM berorientasi ekspor.

BNI siap membantu dan memfasilitasi UMKM, mulai dari edukasi untuk menyusun laporan keuangan hingga pemasaran, terutama yang berorientasi ekspor. Di samping itu, BNI terlibat dalam pembiayaan diaspora yang memiliki usaha di luar negeri.

Sementara itu, di dalam negeri, BNI menjadi tempat bagi puluhan juta orang yang mempercayakan simpanannya, ratusan ribu orang (di luar kartu kredit) yang telah mendapatkan pembiayaan serta terdapat hampir 800.000 perusahaan yang mencatatkan rekeningnya di BNI.

Tidak hanya itu, terdapat 154.000 pemilik usaha kecil yang kini mendapatkan tambahan penghasilan karena bergabung menjadi BNI Agen46, atau kepanjangan tangan BNI dengan masyarakat yang memiliki keterbatasan akses ke outlet bank terdekat.

Baca juga: BNI biayai dua PLTP untuk realisasikan proyek Geo Dipa, begini penjelasannya
Baca juga: Begini cara Pemerintah dan BNI dorong efektivitas Kartu Prakerja lewat KUR
 

Pewarta: Satyagraha

Editor : Febrianto Budi Anggoro


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2021