Rumah berwarna hijau muda itu sendirian di tengah lahan pesisir pantai Desa Lateri yang berbatasan dengan Desa Passo. Untuk menuju ke tempat itu, dari pinggir jalan raya, hanya ada satu jalan setapak.

Di rumah itulah Dominggus Ledrick Sinanu hidup bersama empat anaknya, satu laki-laki dan tiga perempuan. Isterinya sudah lama meninggal dunia.

Pria berusia 64 tahun yang akrab disapa Pak Sinanu itu tidak bisa disebut orang kebanyakan, karena dia adalah penerima penghargaan Kalpataru Tahun 1981 berkat kegigihannya menanam pohon bakau di pesisir pantai sekitar tempat tinggalnya.

Apa yang dilakukan Pak Sinanu berawal dari kegalauan hatinya sebagai nelayan melihat kegersangan pantai di Lateri, yang membuat ikan dan biota laut lainnya enggan menetap.

"Waktu itu tahun 1977. Beta buang jaring saat air pasang dapat ikan banyak, saat air surut dapat ikan sedikit. Jadi beta berpikir ikan butuh tempat basombar (berlindung), lalu beta mulai tanam," katanya.

Siapa nyana, upaya Pak Sinanu itu ternyata membawa hasil besar. Hutan bakau yang kemudian tercipta membuat daerah pesisir tersebut menjadi habitat dan ekosistem makhluk hidup laut dan sekaligus mencegah abrasi.

Masyarakat nelayan di Lateri pun bergembira karena pantai mereka tidak lagi gersang dan sebaliknya menjadi kaya akan ikan, udang, siput, teripang, rajungan, dan sebagainya.

Pak Sinanu pun puas, apalagi upayanya itu mendapat perhatian besar dari pemerintah pusat, tepatnya ketika ia diterbangkan ke Jakarta untuk menerima Kalpataru dari Presiden Soeharto di Istana Negara.

Seingat dia, kandidat peraih penghargaan paling bergengsi di bidang lingkungan hidup itu ada 100 orang dari seluruh daerah di Indonesia, dan yang terpilih adalah dirinya.

"Beta tulis semua manfaat pohon bakau mulai dari akar hingga daunnya. Dari situ mungkin beta dinilai menang," katanya.


"Seng Hitung Lai"

Saat ini Pak Sinanu tidak lagi tahu berapa banyak pohon bakau yang sudah ia tanam, tetapi yang pasti luas hutan buatannya itu tidak kurang dari empat hektare.

"Beta seng hitung lai (Saya tidak menghitungnya lagi). Tapi mulai 1977 sampai 1985 jumlah yang beta tanam 10.000 pohon," katanya.

Saat ini, Pak Sinanu juga membudidayakan tanaman bakau untuk keperluan masyarakat luas termasuk pecinta lingkungan hidup, pelajar, dan mahasiswa.

Selain LSM, kelompok pro-lingkungan maupun pemerintah daerah yang membeli anakan bakau darinya, banyak yang datang untuk belajar dan magang di rumahnya untuk keperluan membuat karya tulis, skripsi, desertasi maupun tesis.

Berbicara tentang tanaman bakau, Pak Sinanu menyatakan jenisnya cukup banyak. Beberapa di antaranya yang ia sebutkan adalah mange-mange, tongke, api-api, pisang tanduk laut, nipa, atong pantai, ketapang, kayu kuda, dan matahuri.

Semua jenis pohon bakau itu sekarang tumbuh subur di sekitar tempat tinggalnya dan banyak memberi manfaat tidak hanya bagi dirinya dan keluarga tetapi juga orang lain.

Di samping menjadi "sombar" bagi ikan dan sumber daya hayati laut lainnya, pohon bakau juga memiliki banyak manfaat.

Berdasarkan pengalaman Pak Sinanu, akar pohon itu bisa dijadikan pelampung jaring ikan dan pentil lampu petromaks. Batangnya bisa untuk bahan pewarna jaring.

"Tetapi setelah era wantex, batang bakau tidak digunakan lagi. Apalagi yang diambil itu kulitnya, dan batang bakau yang dikupas kulitnya akan mati kering," katanya.

Adapun buah bakau termasuk jenis umbian yang aman dikonsumsi sebagai makanan tambahan, termasuk dibikin menjadi penganan getuk. Daunnya dapat dijadikan makanan ternak kambing.

"Daun yang gugur dan terendam dalam air akan membusuk dan menjadi mata rantai makanan ikan," katanya.

Potensi pohon bakau juga dimanfaatkan Pak Sinanu dan keluarga untuk mendapatkan penghasilan.

Selain melaut, ia dan keempat anaknya rajin mengumpulkan bibit untuk dijadikan anakan bakau, lalu dijual seharga Rp5.000.

Sambil tertawa Pak Sinanu sempat menuturkan pengalamannya merasa tertipu oleh sebuah organisasi pemuda.

"Mereka beli dari beta Rp1.000, mar (tetapi) belakangan beta tahu dorang (mereka) jual Rp8.000. Sejak itu beta jual Rp5.000 per anakan," katanya.

Keuntungan besar diraih manakala ada permintaan dari pemerintah daerah, LSM maupun kelompok pro lingkungan, yang sekali pesan bisa mencapai 15.000 anakan.

Pak Sinanu pun tidak jarang diminta untuk menjadi penceramah atau pendamping kelompok nelayan di berbagai daerah yang ingin menciptakan hutan bakau di daerah mereka.

"Selain di Ambon, beta pernah diminta ke desa Arieate dekat Piru (ibu kota Kabupaten Seram Bagian Barat), dan ke desa Nalbesi di Buru Selatan," katanya.


"Seng Tidor Sono"

Bagi peraih penghargaan Kalpataru seperti Dominggus Ledrick Sinanu, konsekuensinya adalah harus terus sadar dan waspada pada ancaman pencemaran lingkungan.

"Orang Kalpataru macam beta `seng bisa tidor sono` (tidak boleh tidur nyenyak). Tetapi syukurlah sekarang ini masyarakat sudah banyak yang sadar untuk menjaga lingkungan agar tidak rusak," katanya.

Meski pun demikian, pria yang juga meraih anugerah Satya Lencana Pembangunan pada 1995 ini mengaku lingkungan alam masih memiliki musuh besar berupa proyek pembangunan dan tumpahan minyak di laut.

"Terutama proyek-proyek perumahan atau perkantoran dan pusat bisnis yang tidak memperhatikan dampak lingkungan. Kalau tumpahan minyak di laut itu jelas akan membuat tanaman bakau mati kering," katanya.

Ia juga menyatakan bengkel kendaraan dan bengkel las karbit sebagai tempat usaha yang harus diperhatikan oleh pemerintah daerah.

"Para pemilik usaha itu harus punya tangki-tangki untuk menetralisir oli bekas dan sisa-sisa karbit. Kalau dibuang ke tanah begitu saja, maka saat hujan akan terbawa ke laut dan mengancam lingkungan maupun ikan dan sumber daya hayati laut lainnya," katanya.

Kini hidup bahagia dengan 10 cucu, kisah kepahlawanan Dominggus Ledrick Sinanu dan keluarga menyelamatkan pesisir pantai Lateri sudah terdokumentasi, baik dalam film dokumenter maupun buku.

Pada 2012, film dokumenter tentang Pak Sinanu yang berjudul "Pattimura Pelindung Pantai" produksi Indonesia Tangguh meraih Juara III terbaik dari 500 film tentang lingkungan dari seluruh Indonesia. Posisinya berada di bawah "Lapindo" sebagai Juara I dan "Gunung Api: Mbah Marijan" sebagai Juara II.

Pak Sinanu pun menulis sebuah buku berjudul "Perempuan Bersulam Bumi" yang diterbitkan oleh Kompas Gramedia.

"Buku itu tentang anak perempuan beta yang ikut merawat hutan bakau ini," katanya mengakhiri perbincangan.

Pewarta: John Nikita Sahusilawane

Editor : John Nikita S


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2014