Ambon (Antara Maluku) - Gubernur Maluku Said Assagaff menyatakan masyarakat daerah ini berbelasungkawa atas musibah jatuhnya pesawat Airasia di Selat Karimata, terutama pada dua penumpang asal Maluku Barat Daya (MBD) yang turut menjadi korban.

"Sebagai sesama anak bangsa Indonesia, wajar sekiranya masyarakat Maluku berbelasungkawa terhadap dua korban yang masih belum ditemukan itu," katanya, di Ambon, Senin.

Dua penumpang pesawat AirAsia 320 - 200 dengan kode penerbangan QZ8501 yang hilang kontak dalam penerbangan dari Bandara Juanda, Surabaya - Changi, Singapura, pada Minggu (28/12), teridentifikasi sebagai kakak beradik Indri Yani Abraham dan Viona Florensia Abraham.

Keduanya berasal dari desa Tomra, pulau Leti. Profesi mereka adalah wirausaha dengan mengelola toko, baik di Leti maupun pulau Tiakur.

Indri dan Viona miliki ibu yang berprofesi pendeta di pulau Leti.

Gubernur Said mengharapkan Indri dan Viona segera ditemukan agar sanak keluarga tidak larut dalam keresahan.

"Kami berdoa agar keduanya segera ditemukan dan proses selanjutnya menjadi kewenangan keluarga, terutama terkait lokasi pemakaman," katanya.

Salah seorang tokoh masyarakat MBD, Adolof Unawekly mengakui Indri dan Viona ke Singapura dalam rangka liburan akhir tahun 2014.

"Saya dengar keduanya ke Singapura dalam rangka berlibur Tahun Baru di sana," ujarnya.

Sedangkan, tiga penumpang lainnya yakni Raynaldi Theodorus, Winoya Theodorus dan Hendra Theodorus dikabarkan berasal dari Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB).

Namun, Agus Theodorus yang salah seorang wirausaha di Saumlaki, ibu kota Kabupaten MTB saat dihubungi mengemukakan, tidak mengetahui tiga orang tersebut.

"Rasanya kalau berasal dari MTB kita saling kenal," katanya melalui pesan singkat (sms).

Pesawat AirAsia bernomor penerbangan QZ 8501 dari Surabaya menuju Singapura mengalami hilang kontak dengan "Air Traffic Control" pada Minggu (28/12) pagi.

Pewarta: Alex Sariwating

Editor : John Nikita S


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2015