Ambon, 20/8 (Antara Maluku) - Tingkat pengangguran masyarakat Maluku pada tahun 2017 hanya sebesar 7,7 persen dari total penduduk 1,8 juta jiwa, atau mengalami penurunan tipis dibanding tahun 2015 yang sebesar 9.93 persen.

"Sama halnya dengan tingkat kemiskinan penduduk pada tahun 2016 sebesar 19,36 turun menjadi 18,45 persen Maret 2017, dan indeks pembangunan manusia tahun 2015 sebesar 67,5 meningkat menjadi 67,50," kata Gubernur Maluku Said Assagaff.

Menurut gubernur, Provinsi Maluku yang kini telah berusia 72 tahun bersamaan dengan lahirnya negara ini, pemprov secara bertahap meningkatkan taraf hidup masyarakat dari berbagai sektor pembangunan.

Pertumbuhan ekonomi kita juga mengalami peningkatan yakni pada tahun 2015 sebesar 5,44 persen menjadi 6,4 persen juni tahun 2017 dan lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 5,01 persen," ujarnya.

Dikatakan, inflasi sebagai suatu gambaran stabilitas daya beli masyarakat terus mengalami perbaikan dari 6,15 persen tahun 2015 turun menjadi 3,97 persen maret 2017.

Selain itu, pendapatan percapita rakyat Maluku naik dari Rp14 juta di tahun 2015 menjadi Rp16,5 juta tahun 2016.

Menjawab tantangan era kompetisi global seperti era Masyarakat Ekonomi Asean serta kesiapan sumberdaya manusia yang relevan dengan kebutuhan pengelolaan sumberdaya alam, maka dalam bidang pendidikan dewasa ini pemprov sedang mengambil beberapa langkah program unggulan seperti pemberian beasiswa program strata satu tekhnik geologi di Unpad Bandung yang sudah dua angkatan hingga tahun ini.

Program ini sangat strategis sebagai upaya mempersiapkan sumberdaya manusia yang memadai untuk mengelola berbagai potensi sumberdaya alam yang ada seperti blok migas abadi Masela, tambang emas di Gunung Botak (Pulau Buru) dan kekayaan alam lainnya di hutan atau laut.

Kemudian pemberian beasiswa S1 bidang pariwisata di Universiats Udayana Bali serta bantuan beasiswa S2 dan S3 untuk berbagai disiplin ilmu lainnya.

Pemprov juga sudah menandatangani MoU dengan Kementerian Keuangan dalam rangka pemberian bantuan beasiswa untuk program S2 dan S3 di dalam dan luar negeri dimana dalam MoU tersebut Maluku mendapatkan kuota yang cukup banyak dibanding wilayah lainnya di Indonesia.

"Saya kira langkah ini diambil untuk memotong mata rantai mahalnya biaya mutu pendidikan karena masalah konektivitas dan akes wilayah kita yang berciri archipelago, dan kita juga sedang menggalakkan program Maluku Gemar Membaca dimaksudkan agar budaya membaca dapat berkembang menjadi karakter anak-anak Maluku," kata gubernur.

Pewarta: Daniel Leonard

Editor : John Nikita S


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2017