Ambon, 12/4 (Antaranews Maluku) - Sanggar musik Kakoya Negeri Hutumuri Kota Ambon terus melestarikan alat musik tradisional Maluku Tahuri yang berasal dari dasar laut berupa kerang atau "kulit bia".

"Tahuri terus kita lestarikan secara turun temurun, karena lat musik ini merupakan warisan orang tua yang harus diwariskan ke generasi muda, melalui pembinaan dan pelatihan kepada generasi muda di sanggar Kakoya," kata pelatih sanggar Kakoya Hutumuri, Carolis Elias Horhoruw, Kamis.

Menurut dia, sebagai penerus warisan orang tua pihaknya melihat alat musik tahuri jika tidak diwariskan maka akan punah tergerus arus jaman, mengingat alat musik ini berbeda dengan musik lainnya.

Hal yang paling dominan dari alat musik tahuri adalah bahan dasar pembuatannya yakni 100 persen berasal dari alam. Kulit kerang yang dipakai dalam pembuatan tahuri berasal dari laut Saumlaki Maluku Tenggara Barat (MTB), Dobo Kepulauan Aru serta laut Banda.

Membuat tahuri kata Carolis, kerang yang diambil dari dasar laut dicuci hingga bersih, setelah itu kerang dilubangi dengan bor.

Untuk mendapatkan nada tertentu, tergantung dari besar kecilnya lubang yang dibuat dan besar kecilnya kerang yang digunakan. Kerang kecil akan menghasilkan nada tinggi atau nyaring, sementara kerang besar akan menghasilkan nada rendah.

"Butuh waktu satu hari untuk saya mendapatkan nada karena sudah terbiasa, tetapi untuk pemula dibutuhkan waktu khusus, karena butuh ketelitian dan kecermatan mengingat kondisi kulit bia yang mudah pecah," ujarnya.

Ia mengakui, sanggar kakoya dibentuk tahun 1994 telah tampil diberbagai even tingkat lokal maupun nasional, sebagai bentuk pelestarian musik tradisional Maluku.

"Berbagai kegiatan kita dilibatkan mulai dari tingkat kota Ambon hingga ke nasional yakni tampil di Bali, Jakarta dan kegiatan lainnya," kata carolis.

Pihaknya berupaya melibatkan seluruh lapisan usia mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruna Tinggi, sebagai upaya melestarikan musik tahuri bagi generasi muda.

"Kita terus melestarikan tahuri karena jika bukan kita siapa lagi, saya berharap dukungan pemrintah kota Ambon, provinsi Maluku untuk terus bersama membantu kami dalam pengembangan sanggar, serta melestarikan tahuri sebagai jati diri Maluku mellaui alat musik endemik ini," tandasnya.

Pewarta: Penina Fiolana Mayaut

Editor : John Nikita S


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2018