Dalam event Piala Dunia tahun ini, pendukung Inggris Dave Barrett tercatat sebagai maniak bola yang mungkin melakukan perjalanan terjauh dan paling mahal, sekitar 17.500 mil (28.160 km) untuk mendukung timnya. Dave (33), seorang tenaga pemasaran farmasi, aslinya berasal dari Bristol di baratdaya Inggris tetapi sekarang tinggal di Selandia Baru, mengawali perjalanannya ketika ia pergi ke Auckland Sabtu lalu (5 Juni) dengan kekasihnya dan mendaftar untuk penerbangan ke Johannesburg. Akan tetapi, alih-alih naik ke pesawat menuju Afrika Selatan, ia membatalkan tiketnya, membeli yang baru dan malam itu melakukan penerbangan lain -- menuju London -- karena ia tidak mempunyai halaman kosong dalam paspornya. Diberi tahu bahwa tanpa halaman kosong, ia tidak akan diijinkan masuk ke Afrika Selatan dan kemudian mendapat informasi dari Kedutaan Besar Inggris di Wellington bahwa dibutuhkan empat pekan untuk memproses yang baru, ia mempertimbangkan pilihannya. "Saya berpikir untuk pergi ke Honk Kong," katanya. "Tetapi akhirnya memutuskan hal yang terbaik untuk dilakukan adalah membatalkan penerbangan semula dan pergi ke London untuk mendapatkan paspor baru." Dave terbang ke London, transfer ke Peterborough lokasi tempat kantor pusat urusan paspor Inggris Raya, dan setelah tiga jam mengantri untuk mendapatkan paspor baru, kembali ke Bandara Heathrow dan terbang ke Johannesburg, Afrika Selatan pada hari yang sama. "Saya akhirnya tiba pada Selasa, dan saya senang tiba di sini," katanya pada Jumat saat ia bersiap melakukan perjalanan terakhirnya dari Pretoria ke Rustenburg untuk mengikuti pertandingan pembuka Grup C antara Inggris dan Amerika Serikat. "Itu perjalanan jauh dan mahal, ya," tambahnya, seraya menjelaskan isi koceknya terkuras tidak kurang dari 5.000 dolar Selandia Baru (3.430 dolar AS). Sementara itu, Polisi Afrika Selatan meningkatkan kekuatan penjagaan demi mencegah kejahatan dan menangkis hooligans yang berpontensi membuat keributan pada pertandingan Piala Dunia, ketika Inggris bertemu Argentina di lapangan, Sabtu. Hari itu, petugas juga memulangkan seorang suporter Inggris yang baru tiba di Bandara Jahannesburg, sesudah sebelumnya 11 warga Argentina yang sama dideportasi karena diketahui sebagai penghasut kerusuhan pertandingan sepakbola. Argentina sendiri menyebutkan bahwa sejumlah hooligans dari negaranya telah menyelinap ke Afrika Selatan. "Kami belum benar-benar melihat hooliganisme sebagai resiko yang sangat besar karena semua tindakan sudah kami siapkan dan kerja sama secara baik telah kami lakukan dengan beberapa negara," kata juru bicara kepolisian Sally de Beer. "Selain itu, Pemerintah Inggris juga telah menyiapkan beberapa langkah di negaranya dan kami merasa cara tersebut sudah apat diandalkan," kata plisi wanita itu. Dikabarkan, Argentina telah mencoret 800 suporter yang akan menghadiri pertandingan, sementara Inggris telah meminta 3.200 orang yang dikenal sebagai hooligans menyerahkan paspor mereka selama turnamen berlangsung. "Kami telah bekerja keras untuk menyakinkan masyarakat untuk memahami secara realistis tentang fans Inggris dalam hari-hari ini. Telah banyak perubahan," kata Andy Holt, Kepala Polisi Inggris saat berangkat menuju Rustenburg. Polisi dari 27 negara membantu pasukan Afrika Selatan untuk bersiaga penuh mencegah terjadinya keributan. Setiap stadion telah dikunci bagi pengunjung yang bukan benar-benar fans ksebelasan. Di Rustenburg, petugas sangat ketat melakukan pemeriksaan sekalipun Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden tengah menyaksikan pertandingan. Dari Durban dilaporkan, Polisi Afrika Selatan menembakkan gas airmata dan peluru karet, Minggu malam, untuk membubarkan ratusan pekerja stadion yang melakukan protes atas upah yang mereka terima. Saksi mata menyatakan, polisi anti huru-hara bersenjata senapan dan tameng mengejar para pekerja, yang dikerahkan sebagai penjaga, di luar stadion tempat Jerman mengalahkan Australia 4-0 dalam pertandingan pertama mereka di Piala Dunia. Sedikitnya seorang perempuan cedera. "Kami melakukan protes secara damai karena mereka tidak membayar kami seperti yang kami kira dan kami terkejut ketika polisi tiba-tiba menyerang kami. mereka menembakkan gas airmata kearah kami," kata salah seorang pekerja, Sydney Nzoli.


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026