Neraca perdagangan Maluku periode Januari-November 2010 mengalami defisit 232,58 juta dolar AS, lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 202,41 juta dolar. "Defisitnya neraca perdagangan ini sebagai akibat dari besarnya realisasi impor dalam periode yang sama senilai 292,48 juta dolar dengan volume impor tercatat sebanyak 259,13 ribu ton," kata Kepala Badan Pusat Statistik Maluku, Edison Ritonga, di Ambon, Selasa. Sedangkan realisasi volume ekspor komoditas nonmigas Maluku Januari-November tahun lalu hanya 112,74 ribu ton dengan nilai mencapai 59,9 juta dolar. Menurut dia, makin besarnya nilai defisit neraca perdagangan Maluku di penghujung tahun lalu diakibatkan pemenuhan kebutuhan bahan bakar mineral, kapal laut dan bangunan terapung, aneka benda dari batu, gips dan semen, serta mesin-mesin pesawat mekanik. "Kebutuhan aneka barang impor ini, terutama untuk jenis bahan bakar mineral biasanya didatangkan dari Singapura, Malaysia, dan China," katanya. Rata-rata nilai impor Maluku adalah 1,13 dolar AS per kg atau sekitar 2,13 kali lebih tinggi dari rata-rata nilai ekspor Maluku. Realisasi volume impor bahan bakar mineral yang mencapai 259,13 ribu ton senilai 292,48 juta dolar itu tidak diimbangi ekspor komoditas non migas asal Maluku yang terdiri dari ikan dan udang. Kelompok komoditas impor utama dengan volume di atas seribu ton meliputi bahan bakar mineral senilai 197,45 juta dolar, kapal laut dan bangunan terapung 48,14 juta dolar, mesin-mesin/pesawat mekanik 20,26 juta dolar, mesin/pesawat listrik 8,98 juta dolar dan benda-benda dari besi dan baja senilai 8,44 juta dolar. Ritonga menambahkan, kelompok komoditi impor utama dengan rata-rata nilai impor di atas 30 dolar AS per kg terdiri dari kain tenun yang ditenun berlapis senilai 44,39 dolar per kg, barang-barang fotografi atau inematografi 40,8 dolar per kg, bahan kimia organik 39,31 dolar per kg serta kain perca senilai 36,85 dolar per kg.


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026