Perkembangan nilai tukar petani di Maluku periode Januari 2011 tercatat 103,20 persen atau mengalami kenaikan dibanding Desember 2010 sebesar 103,01 persen.
"Kondisi ini dipengaruhi oleh subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 2,39 persen, sedangkan empat subsektor lainnya mengalami penurunan," kata Kepala Badan Pusat Statistik Maluku, Edsion Ritonga di Ambon, Sabtu.
Empat subsektor yang mengalami penurunan antara lain tanaman pangan sebesar 0,19 persen, hortikultura 0,77 persen, peternakan 0,32 persen dan subsektor perikanan mencapai 0,47 persen.
Daerah-daerah pedesaan di Maluku selama bulan Januari 2011 terjadi inflasi sebesar 0,86 persen, akibat dipengaruhi fluktuasi harga di setiap kelompok pengeluaran rumah tangga.
Misalnya untuk kelompok bahan makanan mengalami kenaikan 0,99 persen,kelompok makanan jadi, minuman dan rokok naik 1,10 persen, perumahan 0,62 persen, sandang 0,10 persen, kelompok kesehatan 0,91 persen serta kelompok transportasi dan komunikasi naik 0,05 persen.
Untuk kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga untuk bulan Januari juga mengalami kenaikan sebesar 1,93 persen.
Kelompok bahan makanan memiliki andil sangat besar dalam tingkat inflasi pedesaan selama bulan Januari yang mencapai 0,50 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,18 persen, perumahan 0,10 persen, sandang 0,00 persen, kesehatan 0,03 persen, transportasi dan komunikasi 0,00 persen.
Sedangkan kelompok pengeluaran lainnya seperti pendidikan, rekreasi dan olah raga memiliki andil terhadap tingkat inflasi di pedesaan sebesar 0,00 persen.
Menurut Ritonga, nilai tukar petani (NTP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani yang menjadi salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan.
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.