Bangun subuh sekitar pukul 04.00 WIT setiap hari sudah menjadi tradisi sekumpulan anak-anak desa Selilau, kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru.

Meski berada di wilayah pedesaan yang jauh terpencil dari hingar-bingar kehidupan kota, semangat juang dan jiwa patriotik anak-anak di kabupaten yang memiliki delapan pulau terluar itu dalam menimba ilmu pengetahuan tidak pernah surut.

"Perjalanan dari desa menuju SMP maupun SMA Benjina ini memang tidak mudah karena harus melewati jalur laut dan memerlukan waktu sekitar tiga hingga empat jam," tutur salah satu warga setempat, Olaf Pensensi di Dobo, ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru, Minggu.

Meski belum terbit fajar di ufuk timur, belasan anak-anak desa ini sudah berkumpul di tepi pantai setiap subuh dan bersama-sama menggunakan perahu sampan untuk bertolak menuju Benjina yang merupakan Ibu kota kecamatan.

Militansi mereka dalam mengejar pendidikan tergolong tinggi dan demi perjuangan tersebut, mereka rela menempuh perjalanan yang penuh bahaya dan tidak menghiraukan resiko dan tantangan seberat apapun.

"Yang terlintas dalam benak anak-anak kami hanyalah menapakkan kaki halaman sekolah dan masuk ruang kelas untuk menerima pelajaran dari para guru sebelum fajar menysingsing," katanya.

Perjalanan menuju sekolah ini juga tidak hanya sekali jalan langsung sampai di tempat tujuan.

Sarana yang digunakan untuk menyeberang laut yang digunakan para siswa ini harus ditinggalkan pada satu titik di tengah perjalanan, tepatnya di sungai benjina baru diteruskan dengan menempuh perjalanan melewati hutan dan pantai.

"Derita anak kami tidak hanya sampai di situ, sebab masih ada satu sungai kecil selebar 50 meter yang harus dilalui," katanya.

Bagi masyarakat di Kabupaten Kepulauan Aru, istilah sungai dipakai untuk selat yang memisahkan pulau-pulau besar dan kecil, sebab di kawasan itu tidak ada sungai air tawar yang besar.

Siswa-siswi yang tidak memiliki perahu terpaksa berenang dengan alat pelampung seadanya meski sedang terjadi musim ombaka dan angin, sedangkan pakaian seragamnya mereka dibungkus rapih dan menyimpannya dalam kantung plastik.

Usai menyeberangi sungai selebar 50 meter ini, terdapat sebuah sumur tua di pulau seberang yang selalu digunakan siswa-siswi asal desa Selilau untuk membersihkan diri dan memakai pakaian seragam baru melanjutkan perjalanan ke sekolahnya.

"Dispensasi"

Konsekuensi para siswa yang menempuh perjalanan jauh dan rumit seperti ini tentunya selalu mengalami keterlambatan tiba di sekolah untuk menerima pelajaran.

"Soal disiplin waktu memang tetap kami terapkan tetapi kondisi siswa asal desa tetangga ini harus dimaklumi juga sehingga sekolah mengambil kebijakan khusus untuk memberikan dispensasi dan sedikit kelonggaran kepada mereka," kata Wakil Kepala Sekolah SMA negeri 5 Benjina," J.J Ratmala.

Sulitnya perjalanan siswa dari desa Selilau ini juga membuat pihak sekolah sangat merasa prihatin dan pernah mengusulkan kepada orang tua murid agar membangun sebuah penampungan darurat di Benjina.

Menurut Ratmala, pihak sekolah sudah berkoordinasi dengan kepala desa setempat namun usulan ini tidak bisa berjalan baik karena berbagai kendala, termasuk di dalamnya persoalan dana.

Padahal tempat penampungan sementara ini sangat strategis bagi siswa untuk tidak terlambat masuk sekolah, dan terpenting adalah mereka tidak harus menempuh perjalanan yang panjang melintasi laut dan pantai serta hutan.

"Masalah ini merupakan tanggung jawab semua untuk kemajuan pendidikan di Kabupaten Kepulauan Aru dan tentunya membutuhkan partisipasi orang tua dan dinas terkait," ujarnya.


Pewarta: Daniel Leonard
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026