Ambon (Antara Maluku) - Nilai tukar petani (NTP) Provinsi Maluku pada Agustus 2011 mengalami penurunan tipis -0,10 dibanding bulan sebelmunya, kata Kepala Badan Pusat Statistik provinsi itu Edison Ritonga.

"Selama Agustus kemarin, NTP kita tercatat sebesar 104,90 dan lebih kecil dari bulan Juli 2011 yang mencapai 105,00," kata Edison di Ambon, Senin.

Sementara untuk masing-masing subsektor seperti tanaman pangan mengalami kenaikan 0,84 peren, subsektor hortikultura turun 0,41 persen, tanaman perkebunan rakyat naik 0,10 persen, peternakan turun 0,32 persen dan sub sektor perikanan alami penurunan sebesar 0,78 persen.

Menurut Edison, selama bulan Agustus juga terjadi inflasi di daerah pedesaan sebesar 0,28 persen akibat dipengaruhi fluktuasi harga di tiap-tiap kelompok pengeluaran rumah tangga seperti kelompok bahan makanan mengalami kenaikan sebesar 0,36 persen, kelompok makanan jadi minuman dan rokok naik 0,11 persen, perumahan naik 0,24 persen dan kelompok sandang naik sebesar 0,54 persen.

Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga juga mengalami kenaikan sebesar 0,02 persen, sama halnya dengan kelompok transportasi dan komunikasi 0,01 persen, kecuali untuk kelompok kesehatan yang mengalami penurunan  sebesar 0,02 persen.

"Andil inflasi bulan Agustus yang besarnya 0,28 persen ini kalau dilihat menurut kelompok pengeluaran, maka bahan makanan memiliki andil inflasi terbesar yakni 0,20 persen," katanya.

Sedangkan untuk jenis kelompok pengeluaran lainnya tidaklah terlalu besar seperti makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,02 persen, perumaan 0,04 persen, serta sandang 0,03 persen, sementara kesehatan, pendidikan, rekreasi dan olahraga maupun transportasi dan komunikasi masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,00 persen.

NTP yang diperoleh dari perbandingan indkes harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli para petani di pedesaan.

Edison menambahkan, nilai tukar petani juga menunjukkan daya tukar dari harga produk pertanian dengan harga barang dan jasa yang dikonsumsimaupun untuk biaya produksi, sehingga makin tinggi NTP di sebuah daerah secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani.

Pewarta: Daniel Leonard
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026