Kegiatan itu dilakukan menyusul banjir lahar dingin pada 27 Desember 2011.
Para pemuda dari gerakan Ambon Bergerak, komunitas Maluku Baronda, Manis Pait, Arumbai Blogger, Pardiedoe Fotografi, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ambon dan lainnya mengumpulkan bantuan berupa pakaian bekas layak pakai dan uang untuk para pengungsi.
Aksi itu dilakukan di beberapa ruas jalan di pusat kota Ambon, seperti kawasan Gong Perdamaian Dunia, Jalan Sultan Babulah, dan Jalan A.Y. Patty.
Para relawan itu membawa kardus bertuliskan "Bencana Ternate", mereka mengumpulkan uang dari pengguna jalan.
Beberapa pemuda lainnya memberikan pengumuman pengumpulan bantuan pakaian bekas layak pakai bagi pengungsi, dalam ibadah akhir tahun di gereja-gereja.
Selain itu, mereka juga bergerak langsung menemui masyarakat, dan juga menyebarkan informasinya melalui situs www.ambonbergerak.com dan www.arumbai.org.
"Hari ini kami berhasil mengumpulkan Rp1.501.000, sedangkan baju bekas layak pakai, baru terkumpul satu kantung plastik besar. Besok akan dilanjutkan lagi di beberapa tempat yang berbeda," kata Yuli Toisutta dari komunitas Maluku Baronda kepada ANTARA.
Menurut dia, uang yang sudah terkumpul akan digunakan untuk membeli pakaian dalam, pembalut wanita, popok bayi, selimut dan tikar yang dapat langsung bisa digunakan oleh pengungsi di Ternate.
"Rencananya bantuan-bantuan ini akan disampaikan awal Januari 2012. Salah satu dari kami akan berangkat ke Ternate untuk menyerahkan langsung barang-barangnya kepada pengungsi," katanya.
Toisutta mengatakan, meski belum mengetahui jumlah pengungsi erupsi gunung Gamalama, dia dan teman-temannya akan berusaha mengumpulkan lebih banyak bantuan pakaian bekas layak pakai, terutama untuk bayi dan balita.
"Kami belum tahu jumlah tepatnya, tapi kemarin seorang teman di Ternate mengabarkan ada 30 kepala keluarga (kk) yang rumahnya hancur diterjang banjir," katanya.
Pewarta: Shariva Alaidrus: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.