ANTARA Ambon yang mengikuti prosesi adat pengambilan api untuk menyulut obor Pattimura, melaporkan, prosesi dilakukan para Latupati (pimpinan adat) se-Pulau Saparua di puncak Gunung Saniri yang merupakan gunung tertinggi di Pulau tersebut pada Senin petang.
Pengambilan api di puncak gunung Saniri dimaksudkan untuk mengingatkan kembali kepada generasi muda akan semangat dan heroisme Thomas Mattulesy yang bergelar "Kapitan Pattimura" bersama para pejuang lainnya, saat menggelar pertemuan akbar untuk menyusun strategi penyerangan terhadap penjajah.
Sebelum ritual adat digelar, para ahli waris bersama para Latupati telah menggelar ritual dan adat di rumah bekas tempat tinggal keluarga Pattimura di Desa Tuhaha, di mana di rumah tersebut juga tersimpan pakaian serta parang dan salawaku yang pernah digunakan Pattimura saat memimpin perang melawan penjajah.
Setelah itu, barulah keluarga dan para Latupati yang menggunakan pakaian serba hitam dan bagian lehernya dihiasi "lenso" (sapu tangan) adat, berjalan menuju puncak Gunung Saniri untuk memulai prosesi pengambilan api, dengan dikawal puluhan pemuda bertelanjang dada dan menggunakan celana berwarna merah dan ditangan terhunus pedang, sambil menarikan tarian cakalele ( tari perang).
Proses hingga menghasilkan "Unar" atau titik api yang akan digunakan untuk menyulut obor induk ini hanya bisa dilakukan oleh keturunan Pattimura yakni dari Marga marga Matakena, Tatipikalawan dan Polattu, dan dipimpin Raja Negeri Tuhaha, Mery Tanalepy.
Wakil dari tiga marga ini bertugas untuk menggosok dua bilah bambu, di mana pada bagian bawah salah satu bambu telah diletakkan "parung" atau sejenis serabut kelapa yang mudah terbakar. Proses pengambilan api ini disaksikan ratusan warga di Pulau Saparua, Haruku dan Pulau Ambon.
Mereka hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga menit untuk menghasilkan titip api. Titik api itu kemudian membakar "parung" yang kemudian digunakan untuk menyalakan obor induk setinggi satu meter serta dua obor pendamping dengan ukuran masing-masing 60 centi meter.
Ratusan warga yang mengikuti proses pengambilan api itu sontak berteriak dan histeria saat obor yang Pattimura dinyalakan, sehingga menimbulkan suasana heroisma di puncak gunung Saniri, diiringi tarian cakalele dan suara tabuhan tifa dan dan tiupan tahuri (kulit bia).
Menurut Raja negeri Tuhaha, Mery Tanalepy, titik api yang dihasilkan dari gesekan dua bilah bambu itu digunakan untuk menyulut lentera yang telah dipersiapkan, dan api pada lentera itulah yang kemudian digunakan untuk menyulut obor Pattimura.
"Api yang dihasilkan ini sangat sakral. Kerena itu tidak boleh padam selama dalam perjalanan dari Tuhaha maupun menyeberang dari Pulau Saparua ke Pulau Ambon dan tiba di Pattimura Park," ujarnya.
Obor Induk dan dua obor pendamping kemudian diserahkan kepada Raja negeri Boy, Upu Pattiasina dan pemuda Desa Ihamahu untuk dikirab melewati beberapa desa yakni Saparua, Tiow, Portho, Haria, di mana seluruh rombongan juga menyinggahi Benteng "Duurstede" yang kala itu menjadi markas utama penjajah di Pulau Saparua.
Sebelum obor dibawa ke Ambon, para Latupatti berkumpul di Baileo (rumah Adat) desa Haria untuk bersulang tuak sebagai lambang persaudaraan serta membacakan 17 pasal keberatan rakyat yang berisi protes atas pemaksaan kehendak penjajah Belanda. 17 pasal keberatan itu merupakan hasil rumusan Pattimura bersama para pahlawan saat pertemuan akbar di puncak Gunung Saniri.
Tanelepy menambahkan, Momentum hari Pattimura ke 195, harus dimaknai para Pattimura muda untuk mengobarkan semangat membangun daerah, bangsa dan negara.
"Semangat perjuangan Pattimura harus dimaknai sebagai proses penguatan rekonsiliasi antarmasyarakat, serta membangun Maluku menjadi lebih baik dan dilestarikan untuk anak-cucu," tambahnya.
Obor tersebut kemudian diseberangkan dari Pulau Saparua dengan menggunakan kapal perang dan tiba di pelabuhan Tulehu, PUlau Ambon, pukul 23.00 WIT., kemudian diarak secara estafet dengan dengan delapan desa-kelurahan, hingga tiba di kawasan Pattimura Park.
Para pemuda yang berada di setiap kawasan yang dilewati obor wajib berkumpul di batas kampung kampung untuk menunggu kedatangan pamuda yang membawanya, kemudian dilarikan secara estafet menuju desa lainnya. Pada setiap desa disiapkan lima orang pemuda yang bertugas membawa dan mengawal obor, sedangkan sisanya mengiringi dengan tarian Cakalele selama perjalanan.
Sebanyak 240 pemuda dari delapan desa di Ambon bergantian membawa obor secara estafet, dan saat tiba kawasan Pattimura Park, obor tersebut diterima Wali kota Ambon, Richard Louhenapessy dan kemudian menyerahkannya kepada Upulatu (pimpinan tertinggi) Karel Albert Ralahalu guna menyulut obor utama yang berada di tengah kawasan Pattimura, sekaligus menandai dimulainya upacara peringatan.
Pewarta: James F. Ayal: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.