Seluruh rakyat di negara Spanyol meledak dalam kegembiraan saat tim nasional mereka mencapai final Piala Dunia untuk pertama kali setelah unggul 1-0 atas Jerman. Pesta itu berlangsung sepanjang malam.
"Selesai sudah! Kita masuk final Piala Dunia! Ini sejarah, sungguh menggembirakan!" demikian teriakan seorang juru ulas dari stasiun televisi La Cuatro saat peluit tanda pertandingan berakhir berbunyi.
"Ini bukan mimpi, Spanyol masuk final!" demikian harian Madrid, ABC, menyatakan di jejaringnya.
Suara petasan, vuvuzela, klason mobil dan teriakan kegembiraan bergema di seluruh Madrid, tempat bendera warga merah dan emas Spanyol berkibar di balkon, atap rumah dan bar.
Ribuan penggemar yang dilanda kegembiraan bernyanyi dan mengibarkan bendera di luar stadion Bernabeu, Real Madrid, tempat pertandingan itu disiarkan melalui layar raksasa.
Kerumunan orang berteriak, "Ya, ya, ini ya, ya!" dan "Aku orang Spanyol, Spanyol, Spanyol!" untuk merayakan kemenangan tersebut --yang mengantar Spanyol ke final melawan Belanda pada Ahad.
"Kami sangat gembira, kami pantas menang," kata Julia, yang berusia 17 tahun.
Spanyol "membuka pertandingan" dan "memiliki peluang yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Jerman", kata Juan Sierra (17).
Spanyol "mendominasi pertandingan dan pada babak kedua tim Jerman sudah kelelahan, dan dengan kesempatan yang kita buat kita jauh lebih segar", kata Thomas Vasquez, ayah yang berusia 41 tahun dan menyaksikan pertandingan itu bersama putranya.
Gol Carles Puyol pada menit ke-73 disambut dengan asap merah dari kembang api.
Kota tersebut sebelumnya dilanda kegairahan dan harapan sebelum apa yang dikatakan surat kabar olah raga AS adalah "pertandingan hidup-mati kita".
"14 Kepala Negara Datang"
Sementara itu, dari Johannesburg, Afrika Selatan dikabarkan, sedikitnya 14 kepala negara dan 10 pejabat tinggi sudah mengkonfirmasi kehadiran mereka untuk menyaksikan pertandingan final Spanyol melawan Brasil.
Jurubicara Departemen kerja sama dan hubungan internasional Afrika Selatan, Saul Molobi, mengatakan para tamu VVIP itu termasuk meliputi Raja Letsie dari Lesotho, Raja Meswati dari Swaziland, Presiden Zimbbabwe Robert Mugabe, Presiden Kenya Mwai Kibaki, Presiden Mozambik Armando Guebuza, Presiden Gabon Ali Bong Ondimba dan Presiden Komoro Ahmed Abdullah Mohamed Sambi.
Menurut Perhimpunan Pers Afrika Selatan (SAPA), presiden Malawi, Burundi, Ghana, Togo, Burkina Faso, Equatorial Guinea dan Djibouti juga berencana hadir.
Pertemuan puncak pendidikan "1Goal", yang dituanrumahi oleh Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma dan Presiden FIFA Sepp Blatter, yang direncanakan diadakan sebelum pertandingan 11 Juli, juga akan dihadiri oleh banyak kepala negara.
SAPA mengatakan sebanyak 10 lagi "pejabat tinggi", termasuk mantan presiden Zambia Kenneth Kaunda, mantan presiden lain, perdana menteri dan menteri pemerintah juga diperkirakan akan menyaksikan grand final Piala Dunia tersebut.
Para utusan yang diundang oleh FIFA juga akan hadir di sana, kata Molobi.
"Ular Sanca Disita"
Piala Dunia 2010 tak lepas dari nuansa magis. Awal pekan ini satu ular sanca yang digunakan oleh tukang ramal Afrika Selatan "untuk mengendalikan kemajuan semua tim di dalam Piala Dunia FIFA telah disita oleh petugas kesejahteraan hewan di Afrika Selatan", kata seorang wanita juru bicara.
Ular piton Burmese Rock sepanjang 2,8 meter itu digunakan oleh seorang dukun di kotapraja Cape Town untuk "berkomunikasi" dengan arwah leluhur, guna meminta mereka menjadi perantara dalam pertandingan Piala Dunia, kata Sarah Scarth, wanita juru bicara bagi Perhimpunan Pencegahan Kekerasan terhadap Binatang (SPCA).
Terlepas dari semua hal menarik, pahit dan manis, tawa dan air mata, yang pasti seluruh penduduk dunia akan menujukan perhatian mereka ke layar kaca televisi, baik di rumah maupun tempat-tempat "Nonton Bareng".
Rasa penasaran mereka tampaknya hanya satu, "Siapa lebih unggul, Spanyol atau Belanda" di puncak kompetisi olah raga paling bergengsi ini.
Kita tunggu saja.
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.