Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy, di Ambon, Rabu mengatakan pihaknya telah menyampaikan perkiraan besar kerugian material itu kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) guna memperoleh bantuan dana penanganan.
Kerugian diklasifikasikan berdasarkan sejumlah kategori, di antaranya kerusakan pemukiman warga sebesar Rp34,12 miliar dan prasarana lingkungan Rp28,2 miliar, kerusakan infrastuktur transportasi berupa jalan dan jembatan Rp95,4 milyar, air dan sanitasi Rp7 miliar, sarana kesehatan dan keagamaan masing-masing Rp350 juta serta sarana pendidikan Rp7,48 milyar.
"Banjir dan tanah longsor 1 Agustus 2012 mengakibatkan 1.328 unit rumah mengalami kerusakan, di mana 209 unit rusak berat, 664 rusak sedang, 455 unit rusak ringan serta 201 unit lainnya di lima kecamatan terancam rusak," katanya.
Sedangkan fasilitas umum lainnya diantaranya talud penahan tanah mengalami kerusakan pada 82 titik, talud penahan sungai 16 titik, bahu jalan sembilan titik serta tiga unit jembatan," ujar Wali Kota Louhenapessy.
Dia mengakui, tim BNPB telah berkunjung ke Ambon dipimpin Deputi Tanggap Darurat BNPB, Dody Ruswandy, guna melakukan verifikasi berbagai kerusakan yang terjadi.
Data tersebut akan digunakan untuk menentukan besarnya alokasi dana bantuan yang akan dikucurkan untuk penanganan pasca bencana, termasuk strategi penanganan tanggap darurat.
"Eksekusi tanggap darurat bisa berupa bantuan kebutuhan hidup bagi warga yang terkena bencana, maupun penanganan talud penahan sungai dan tanah yang rusak. Tindakan ini penting dan menjadi prioritas guna mencegah banjir susulan dan tanah longsor saat hujan," tandasnya.
Selain itu, pemenuhan kebutuhan korban banjir yang meliputi pasokan kebutuhan sehari-hari, peralatan masak, perlengkapan tidur dan lainnya.
Menyingung tentang penyaluran bantuan tanggap darurat yang telah berakhir 14 Agustus 2012 atau 14 hari setelah bencana, Wali Kota menandaskan, Pemkot Ambon akan tetap memberikan perhatian penuh, terutama bagi warga yang masih berada di lokasi pengungsian.
"Masih banyak warga yang tinggal di lokasi penampungan sementara, sehingga bantuan masih akan terus disalurkan untuk memenuhi kebutuhan mereka, diantaranya dapur umum serta bahan makanan," katanya.
Hingga saat ini masih tersisa 898 kepala keluarga (kk) atau 3.810 jiwa warga masih mengungsi di 18 lokasi penampungan yang menyebar pada lima kecamatan yakni Nusaniwe, Sirimau, Baguala, Teluk Ambon serta Leitimur Selatan.
"Jumlah pengungsi semakin berkurang, karena banyak yang telah kembali ke rumahnya yang masih bisa diami. Saat terjadi bencana jumlah warga yang mengungsi mencapai 12 ribu jiwa," ujar Louhenapessy.
Dia menambahkan, pihaknya bekerja sama dengan TNI - Polri serta masyarakat, akan terus membersihkan lingkungan pemukiman yang terkena bencana, sehingga tidak menimbulkan dampak sosial lainnya, terutama mewabahnya berbagai penyakit menular.
Pewarta: James F. AyalEditor : John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.